Hari Minggu Biasa XXIX (H)
Yes. 45:1,4-6; Mzm. 96:1,3,45,7-8,9-10ac; 1Tes. 1:1-5b; Mat. 22:15-21.
Injil hari ini berbicara mengenai percakapan yang menarik antara kaum farisi bersama orang-orang Herodian dengan Yesus. Pertanyaan yang diajukan oleh mereka bermaksud untuk menjebak Yesus. Mereka tidak mempunyai intensi positif. Mereka bahkan mulai menyapa Yesus dengan kata penuh hormat dengan harapan Yesus akan berbicara secara bebas dan terbuka. Setelah menyapa Yesus, mereka langsung memberikan pertanyaan dilematis: « Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?”.
Mereka berpikir pertanyaan itu akan menjadi suatu masalah besar bagi Yesus: Apabila Yesus mengatakan “tidak”, maka Dia melawan para pendukung Herodes dan terlebih lagi melawan penguasa Roma; maka dengan senang hati orang-orang Farisi dan para pendukung Herodes itu akan membawa Yesus kepada penguasa Romawi dengan tuduhan “makar”, artinya melawan pemerintahan Roma. Namun apabila Yesus mengatakan “ya”, maka Dia adalah seorang pengkhianat bangsa Yahudi. Seorang pengkhianat pasti akan diasingkan bahkan akan mendapat hukuman yang berat menurut hukum orang Yahudi.
Apa yang terjadi dalam dialog tersebut? Yesus membuat orang-orang Yahudi menjawab sendiri pertanyaan mereka. Yesus minta diperlihatkan mata uang logam yang digunakan untuk membayar pajak. Ia sendiri tidak mempunyainya, namun orang Yahudi mempunyai uang logam tersebut dengan gambar Kaisar. Yang mau menjebak Yesus sekarang menjadi pihak yang terjebak, karena ada sebuah hukum tak tertulis yang mengatakan bahwa uang siapa yang digunakan berarti pemerintahannya diakui dengan sukarela maupun tidak. Itu berarti bahwa mereka sendiri mengakui pemerintahan yang sementara berlangsung.
Jawaban Yesus “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.”, membuka mata dan hati mereka. Mereka tidak menyangka bahwa Yesus akan memberikan jawaban begitu bijaksana. Karena itu sesudah mendengar jawaban Yesus demikian, heranlah mereka dan meninggalkan Yesus lalu pergi. Orang-orang Yahudi yang menjebak Yesus pada akhirnya meninggalkan Yesus dalam suasana batin yang kecewa, bahkan sakit hati.
Kitapun kalau punya maksud yang tidak baik ketika datang bermohon kepada Tuhan, pasti yang akan kita terima bukanlah rahmat yang berlimpah tetapi kekecewaan, ketidaksenangan bahkan sakit hati. Marilah kita datang kepada Yesus dengan motivasi yang mulia, dengan alasan yang suci kita berdialog, memohonkan sesuatu, maka percayalah berkat berlimpah tercurah atas hidup kita.
(RD. Melky Malingkas)
“Kemudian pergilah orang-orang Farisi; mereka berunding bagaimana mereka dapat menjerat Yesus” (Mat. 22:15).
Marilah berdoa:
Tuhan, berikanlah hati yang murni kepada kami agar selalu punya motivasi yang baik ketika kami datang kepada-Mu. Amin.











