“Melecehkan Allah”: Renungan, Minggu 11 Oktober 2020

0
1911

Hari Minggu Biasa XXVIII,

BcE Yes. 25: 6-10a; Mzm. 23: 1-6; Flp. 4:12-14, 19-20; Mat. 22: 1-14.

Kitab Suci melukiskan misteri kebahagian hidup manusia dan alam semesta dengan Pesta Pernikahan. Allah menjadikan pernikahan sebagai puncak karya penciptaan-Nya. Ia memberkati pasangan manusia pertama dengan kuasa dan kepercayaan untuk ikut mengusahakan alam ciptaan sebagai partisipan dalam martabat dan kemuliaan serta kebahagiaan Pencipta-Nya. Tuhan Yesus melakukan mujizat pertama dalam Perjamuan nikah di Kana, dan Ia menggunakan Perjamuan Nikah untuk melukiskan Kerajaan Allah, serta simbol pemenuhan sejarah keselamatan, dalam Perjamuan Nikah Anak Domba di surga.

Bacaan hari ini mewartakan bahwa Allah menghendaki, merencanakan dan mengusahakan kebahagiaan manusia ciptaan-Nya. Ia menciptakan langit dan bumi serta manusia untuk menyatakan kebaikan, kasih dan kemuliaan-Nya. Di gunung Sion Ia menyiapkan perjamuan untuk kebahagiaan semua bangsa. Bagaikan seorang Raja, Allah mengundang semua orang turut dalam Perjamuan Nikah Putera-Nya agar sukacita, kegembiraan, kebahagiaan dan kehormatan-Nya meliputi semua orang. Menurut Paulus, “Itulah pengharapan yang terkandung dalam panggilan kita.”

Walaupun manusia sering salah kapra dan melupakan martabat dan tugas panggilannya sebagai ciptaan, Allah tidak membatalkan rencana-Nya. Dalam kerahiman-Nya, Allah terus memanggil dan menuntun manusia kembali ke tujuan yang  direncanakan-Nya. Ia tetap membuka pintu tobat dan senantiasa menantikan semua yang mau kembali menjawab undangan-Nya. Ia terus mengutus para pewarta dan saksi untuk menerangi mata hati  manusia agar memahami dan meyakini pengharapan yang terkandung dalam panggilan-Nya.

Namun tetap ada manusia yang bertegar hati dan nekat melecehkan kebaikan hati Allah. Orang tidak peduli, bahkan nekat melawan Penciptanya. Dengan sombong manusia tampil sebagai tuan penguasa dan perancang serta penjamin kehormatan dan kebahagiaan hidup pribadi dan seluruh dinastinya. Manusia mengandalkan rancangan dan angan-angan hatinya sendiri. Ia meremehkan panggilan untuk beribadat dan menghina pewartaan kebenaran Sabda Allah. Ada juga yang membungkam, menista, menyingkirkan, bahkan membunuh para saksi yang menyuarakan kebenaran atas nama Allah.

Ketika manusia melupakan identitasnya sebagai partisipan dalam martabat, kemuliaan dan kehormatan Pencipta, maka  ia menistakan dan melecehkan Pencipta-Nya. Ia tampil tak pantas di hadirat Allah. Penampilan seperti ini membuat manusia tidak nyaman di hadirat Pencipta-Nya dan mendorongnya menyingkir dan terbuang keluar dari kehormatan, sukacita dan kebahagiaan Kerajaan Allah. Jangan lupa, password pintu kerahiman Allah: ‘Tobat’.

(Pst. Julius Salettia, Pr)

“Kerelaan dan kemurahan-Mu mengiringi aku sepanjang umur hidupku” (Mzm. 23: 5).

 

Marilah berdoa:

Tuhan, terangilah hati kami untuk memahami pengharapan yang menjadi panggilan hidup kami. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini