Hari Biasa (H).
Gal. 3:1-5; MT Luk. 1:69-70,71-72,73-75; Luk. 11:5-13.
Kita semua tentu memiliki definisi tersendiri tentang makna dari ayah. Yang pastinya, ayah merupakan orang yang selalu hadir di dalam kehidupan kita dalam keadaan suka dan duka. Ia selalu ada untuk mendorong atau mendukung kita. Ayah bagaikan waktu yang selalu ada berjalan dan tak terpisahkan. Ia memberikan kira pedoman atau nilai yang menjadi hadiah atau bekal dalam kehidupan kita di masa yang akan datang.
Kedua bacaan hari ini menggambarkan Allah sebagai sosok yang luar biasa dan setia dalam mendampingi kehidupan anak-anak-Nya. Kasih-Nya nyata melalui berkat dan juga kemampuan atau bakat yang ada pada diri kita. Semua itu merupakan bekal yang senantiasa membantu kita dalam melewati dan menghadapi badai kehidupan yang menerjang. Bahkan ketika kita tersesat, tak tahu arah, Ia bahkan memberikan Roh Kudus untuk selalu menyadarkan dan menuntun kita. Hal inilah yang seharusnya kita sadari.
Kita tak harus selalu menyalahkan waktu dalam proses pengembangan diri kita. Sebab semuanya itu telah diberikan kepada kita ketika kita dibentuk oleh Allah. Semua pemberian dari Allah adalah hal yang baik. Maka ketika kita mengalami atau melakukan kesalahan yang berat, kita harus sadar akan jadi diri kita yang sebenarnya. Juga hadiah atau kemampuan yang diberikan oleh Allah kepada kita.
Sadar akan keterbatasan dan keinginan kita, Ia bahkan menghendaki agar kita selalu datang dan meminta kepada-Nya. Bukan mencari allah atau tuan yang lain. Sebab apa yang Ia berikan kepada kita adalah sesuatu yang benar-bernar kita butuhkan. Sesuatu yang berbuah baik dalam kehidupan kita sekarang dan kehidupan kita kelak bersama-Nya.
Roh Kudus serta Firman-Nya akan selalu menuntun dan menjadi pedoman kita. Oleh karena itu ketika mengalami kesesatan, kesulitan, rintangan, kita dingingatkan dan disadarkan kepada siapa kita harus mencari bantuan. Ya, jawabannya adalah Ayah kita yang luar biasa dan setia, Ia adalah Allah. Dia akan selalu memberkati dan menolong kita. Jadilah anak yang taat kepada Bapa. Model ketaatan itu dapat kita teladani dari sosok Yesus Tuhan kita. Dialah Saudara sulung bagi kita.
(Fr. Ever N. Leftungun)
“Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di Surga!” (Luk. 11:13a).
Marilah Berdoa:
Ya Allah, Bapa kami yang setia, dampinglah kami dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Banulah kami dengan Roh Kudus-Mu agar menolong kami menjadi anak-anak-Mu yang setia. Amin.











