Hari Biasa (H)
Pkh. 1:2-11; Mzm. 90:3-4,4-5,12-13,14,17; Luk. 9:7-9.
Ketika sebuah perusahaan handphone mengeluarkan produk terbarunya, banyak orang menjadi penasaran dan ingin segera memperolehnya. Spesifikasi dari produk itulah yang membuat banyak orang tertarik. Orang akan berusaha untuk memperolehnya agar rasa penasaran dan keinginan dapat terobati.
Injil hari ini pula mengisahkan tentang rasa penasaran tetapi bukan rasa penasaran dari banyak orang tetapi rasa penasaran seseorang. Itulah Herodes yang penasaran akan Yesus. Karya-karya Yesus yang begitu menghebohkan banyak oranglah yang membuat Herodes menjadi penasaran. Selain penasaran, Herodes juga merasa cemas karena mendengar cerita dari orang lain tentang Yesus. Ada yang mengatakan Yesus adalah Yohanes Pembaptis yang telah bangkit, ada yang mengatakan Dia adalah Elia, dan ada juga yang mengatakan bahwa Yesus adalah seorang nabi yang telah bangkit. Rasa penasaran dan kecemasan inilah yang membuat Herodes ingin bertemu dengan Yesus.
Keinginan untuk bertemu dengan Yesus adalah hal yang baik. Akan tetapi, sikap yang ditunjukkan oleh Herodes bukanlah hal yang baik. Keinginannya untuk bertemu dengan Yesus tidak didasari oleh hati yang tulus untuk menerima Yesus tetapi karena kecemasan. Itulah sebabnya tidak ada perubahan yang baik yang terjadi dalam diri Herodes. Herodes tidak dapat menerima rahmat dari Allah karena hatinya tertutup. Herodes lebih memilih kekuasaan duniawi dari pada menerima Yesus dalam hatinya.
Sikap yang ditunjukkan oleh Herodes adalah kesia-siaan belaka, seperti yang diungkapkan oleh Pengkhotbah: “Segala sesuatu adalah sia-sia” (Pkh. 1:2). Keinginan untuk bertemu dengan Yesus yang didasari dengan motivasi yang buruk tidak akan menghantar kita pada Yesus tetapi justru membuat kita semakin jauh dari pada-Nya. Sebaliknya, orang yang mencari Yesus yang didasari dengan ketulusan hati akan menemukan Yesus dan menerima-Nya dalam hati sehingga ada perubahan baik yang terjadi. Hati mereka terbuka terhadap rahmat Allah.
Bertemu dengan Yesus bukanlah hal yang sulit, tetapi hati manusia sendirilah yang mempersulit perjumpaan dengan Yesus. Ketekunan dalam doa terutama dalam Ekaristi serta ketulusan hati dalam berbuat amal kasih kepada sesama dapat menghantar kita sampai kepada Yesus yang kita rindukan. Mencari Tuhan tanpa ketulusan hati adalah sia-sia. Oleh karena itu, ketika kita rindu akan Yesus janganlah cemas karena Ia pasti akan menjumpai kita jika kita tetap bertekun dalam doa-doa kita.
(Fr. Valentino Pandelaki)
“Orang yang mengenal nama-Mu percaya kepada-Mu, sebab tidak Kautinggalkan orang yang mencari Engkau, Ya Tuhan” (Mzm. 9:11).
Marilah berdoa:
Ya Tuhan, bukalah hati kami agar kami sanggup mengenal jalan-Mu dan boleh menerima Engkau dalam hati kami. Amin











