“Keutamaan Mengikuti Yesus”: Renungan, Senin 28 September 2020

0
1922

Hari Biasa (H)

Ayb 1:6-22; Mzm. 17:1,2-3,6-7; Luk. 9:46-50

Dalam kehidupan sehari-hari tak jarang kita menjumpai pribadi-pribadi yang ambisius. Seorang yang ambisius akan berusaha untuk menunjukkan diri sebagai yang terbaik dari mereka yang menjadi saingannya. Faktanya ketika sikap ambisius (berlebihan mengejar sesuatu) telah melekat dalam hati dan pikiran seseorang, ia dapat menjadi buta mengenai sesuatu yang lebih penting dari pada sekadar menjadi yang terbaik.

Demikian yang dialami oleh para murid dalam Injil. Para murid sampai bertengkar demi menegaskan siapa yang terbesar di antara mereka. Bahkan ketika Mereka melihat murid-murid Yohanes mengusir setan, mereka juga mencegahnya dengan alasan bahwa murid-murid Yohanes bukan bagian dari mereka. Ini menunjukkan bahwa para murid belum sungguh-sungguh mengerti apa artinya menjadi murid Yesus.

Yesus Sungguh memahami pikiran para murid. Sebab itu Ia kemudian mengambil seorang anak kecil dan berkata “Barang siapa menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku; dan barang siapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku. Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar”. Pertanyaannya, siapa itu murid Yesus dan bagaimana menjadi murid Yesus yang sesungguhnya?

Menjadi murid Yesus berarti mengikuti Allah dan kehendak-Nya secara utuh dan total. Hal itu telah dilakukan oleh Nabi Ayub dalam bacaan pertama. Ayub adalah seorang yang saleh, jujur, dan takut akan Allah. Ayub sungguh menyadari bahwa betapa kecil dirinya di hadapan Allah karena segala sesuatu yang ada padanya adalah berasal dari Allah.

Ajakan bagi kita semua bahwa menjadi murid Yesus pertama-pertama berarti menyadari betapa rendah dan kecilnya kita semua di hadapan Allah. Kita semua memiliki panggilan hidup masing-masing sehingga kita tidak punya kuasa untuk menyatakan diri paling benar dan paling besar dari yang lainnya. Sebab kita semua adalah sama di mata Tuhan. Lebih dari pada itu semua yang kita miliki pada saat ini tak lebih adalah milik Tuhan. Maka, hendaknya kita semua berjalan bersama untuk berbuat baik, setia mewartakan kerajaan Allah, dan membawa sukacita bagi banyak orang karena itulah keutamaan menjadi murid Yesus.

 (Fr. Suprianus Doliti)

“Barang siapa menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku; dan barang siapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku. Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar.” (Luk. 9:48)

Marilah Berdoa:

Ya Allah mampukan kami untuk senantiasa menyadari betapa kecil dan lemahnya kami di hadapanMu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini