“Bukan Soal Harta Dunia” : Renungan, Rabu 30 September 2020

0
1694

Pw S. Hieronimus, ImPujG (P)

Ayb. 9:1-12,14-16; Mzm. 88:10bc-11,1213,14-15; Luk. 9:57-62

Harta merupakan milik seseorang yang menjadi kekayaannya, misalnya uang, harta milik, bahkan dirinya sendiri. Namun dalam hidup sehari-hari, kebanyakan orang beranggapan bahwa harta hanyalah uang dan harta kepunyaan. Kerap kali orang lupa bahwa dirinya juga merupakan harta yang sangat berarti baik secara jasmani maupun rohani. Cinta akan harta dunia seperti uang dan harta milik, selalu menjadi tolok ukur bagi manusia dalam menjalani hari-hari hidupnya. Oleh sebab itu mereka lupa untuk memelihara bahkan mengembangkan hartanya yang sangat berarti, yakni tubuhnya sendiri. Dalam konteks ini tubuh diartikan sebagai harta yang berpotensi untuk menciptakan kebahagiaan di dunia maupun di surga nanti.

Bacaan Injil hari ini berbicara tentang “hal mengikuti Yesus”. Ketika Yesus dan murid-murid-Nya melakukan perjalanan, berkatalah seorang kepada Yesus: “Aku akan mengikut Engkau, kemana saja Engkau pergi.” Perkataan ini merupakan sebuah komitmen yang baik. Akan tetapi Yesus telah mengetahui isi hatinya. Jika ia menjadi pengikut Yesus, maka segala kebutuhan jasmani akan terpenuhi. Misalnya makanan yang berlimpah, tempat tinggal, memperoleh pengakuan dari orang banyak, dan lain-lain.

Cara berpikir seperti ini tentu bisa saja muncul karena mereka telah melihat mujizat-mujizat yang dilakukan oleh Yesus. Maka dari itu Yesus meresponnya dengan berkata: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya”. Dengan berkata demikian, sebenarnya Yesus mau memberitahukan kepada mereka bahwa mengikuti-Nya bukan semata-mata untuk memperoleh kesenangan duniawi, tetapi demi mewartakan Kerajaan Allah.

Tidak ada salahnya kalau orang memiliki uang dan harta milik untuk memfasilitasi hidupnya. Menjadi sebuah kesalahan bila orang menjadikan semua itu sebagai tolok ukur dalam hidup sehari-hari. Ketika semua itu dijadikan tolok ukur dalam hidup, maka ia bisa saja lupa akan tujuan hidup yang sesungguhnya, yakni melakukan kehendak Bapa demi Kerajaan Surga.

Oleh sebab itu, kita bisa belajar dari orang kudus yang diperingati hari ini, yakni santo Hieronimus. Ia adalah seorang imam yang saleh sebab seluruh hidupnya diabadikan pada Kitab Suci. Dalam hidupnya, ia menghayati Kitab Suci secara konsekuen seraya berdoa dalam melayani Gereja. Semoga cara hidup santo Hieronimus dapat menjadi teladan dalam mengikuti Yesus.

(Fr. Frederikus Babaubun)

“Yesus berkata kepadanya: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya”” (Luk. 9:58).

Marilah berdoa:

Tuhan, tuntunlah aku untuk mengikuti-Mu dalam kebenaran bukan karna kekayaan. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini