Hari Biasa (H)
Yeh. 34: 1-11; Mzm. 23:1-3a.4b-4.5.6; Mat. 20:1-16a.
Dalam dunia usaha tentu orang bekerja dengan iming-iming untuk mendapatkan keuntungan. Atas caranya masing-masing orang berusaha untuk mendapatkan upah dari pekerjaannya. Upah yang diberikan tentu berdasarkan beberapa kriteria. Upah yang besar akan diberikan kepada orang yang bekerja dengan waktu yang panjang dan hasil yang berkualitas.
Bacaan Injil hari ini mengisahkan tentang Kerajaan Surga yang diumpamakan seperti seorang tuan kebun anggur yang mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya. Sebelum bekerja, dibuat kesepakatan mengenai upah yang diterima ialah sedinar sehari. Adapun pekerja-pekerja itu datang atas permintaan dari tuan kebun. Konsekuensinya pekerja-pekerja itu melakukan kegiatan bekerja tidak pada waktu yang sama karena ada yang datang pada waktu pagi, pada waktu siang, dan sore hari. Seusai kerja, tuan kebun itu memberi upah kepada mereka dimulai dari para pekerja yang datang lebih awal. Sangka mereka yang bekerja terdahulu akan mendapat upah lebih besar dari yang bekerja kemudian. Namun semuanya diupah sama.
Hal itu menimbulkan keluhan di antara para pekerja. Tuan kebun seakan bertindak tidak adil dan tidak menghargai kerja keras para pekerja yag terdahulu. Tetapi pada kenyataannya sudah disepakati bahwa upah yang diberikan adalah sedinar sehari. Entah yang datang lebih dahulu atau yang kemudian.
Injil hari ini mengisyaratkan bahwa tuan kebun adalah manifestasi dari Allah dan para pekerja adalah umat beriman. Seperti tuan kebun yang hari ini mencari pekerja untuk kebun anggurnya, Allah mencari setiap orang untuk bekerja bagi-Nya. Upah yang akan diterima ialah masuk dalam Kerajaan Surga. Allah telah menyepakati diri dengan umat-Nya bahwa pada akhirnya tujuan hidup manusia ialah untuk bersatu dengan-Nya dalam Kerajaan Surga. Oleh sebab itu Allah terus menawarkan agar supaya tetap di jalan yang benar, berlaku baik sebagaimana yang Ia kehendaki.
Pun sikap para pekerja dalam perumpamaan hari ini, menegaskan bahwa bekerja bagi Allah di dalam ladang-Nya, yakni dalam pelayanan entah sebagai kepala keluarga, ibu, anak-anak bahkan para religius, selayaknya pekerjaan itu tidak dilihat sebagai sumber pendapatan atau meraup keuntungan apalagi mulai memperhitungkan usaha dan jasa. Bekerja bagi Allah adalah anugerah, sebab umat beriman menjadi kelanjutan karya-Nya di dalam hidup harian.
(Fr. Dominikus Samponu)
“Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu” (Mat. 20:14).
Marilah Berdoa :
Ya Tuhan, mampukanlah kami untuk bekerja bersama-Mu dan biarlah kami menikmati upah masuk dalam kerajaan-Mu. Amin.











