“Mengikuti Kehendak Allah atau?”: Renungan, Selasa 18 Agustus 2020

0
2624

Hari Biasa (H)

Yeh. 28:1-10; Ul. 32:26-28, 30, 35c-36d; Mat. 19:23-30.

Ketika kita dihadapkan pada suatu pertanyaan tentang, “Apakah engkau memilih mengikuti Kehendak Allah atau lebih memilih kehendak diri sendiri?” kita pun dapat saja serentak menjawab yaitu, “Mengikuti Kehendak Allah”. Namun dapatkah kita memberi jaminan bahwa kita benar-benar melakukannya? Sekurang-kurangnya, kita dapat memberikan kepastian terhadap diri kita sendiri bahwa kita pernah dan akan selalu melakukannya, sehingga batin kita tetap tenang dan tidak merasa bersalah karena perbuatan kita telah sesuai dengan kata-kata yang diucapkan.

Bacaan hari ini mau memberikan arah bagi kita akan pentingnya untuk mengikuti kehendak Allah dan bukan kehendak diri sendiri. Dalam bacaan pertama, melalui nabi Yehezkiel, Allah menegur raja Tirus yang merasa tinggi hati dan mengangkat dirinya sebagai Allah itu sendiri. Begitu jelas bahwa kehendak diri sendiri yang menuntunnya jatuh pada sikap kesombongan manusiawi. Kecenderungan manusiawi tersebut menuntun dia untuk merasakan murka Allah dan berujung pada kejatuhannya dalam kerajaan maut. Bahkan dalam Injil, Yesus pun menegaskan“lebih mudah seekor unta masuk melalui lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Surga”. Firman Kristus menuntun kepada suatu pertanyaan yang sejalan dengan para rasul, yaitu “Jika demikian siapakah yang dapat diselamatkan?”

Saudara-saudariku yang terkasih, keselamatan akan dirasakan oleh orang-orang yang senantiasa mengikuti kehendak Allah. Hal itu pula yang disampaikan Kristus kepada para murid-Nya. Sebagai manusia kita pun sering jatuh ke dalam dorongan manusiawi atau kehendak diri sendiri, yang nyatanya menuntun kita untuk jatuh ke dalam dosa dan semakin jauh dengan Allah. Keegoisan tersebut bahkan dapat menuntun kita hingga merasa lebih tinggi dari orang lain dan lupa akan Allah. Penting untuk disadari jika di dalam diri kita, kita telah memberikan tempat terhadap kehendak diri kita sendiri, maka tak ada lagi tempat untuk menerima kehendak Allah. Keselamatan terjadi bagi orang-orang yang menerima kehendak Allah secara penuh, sehingga kehendak Allah perlu dilakukan secara totalitas. Meninggalkan rumah, saudara-saudari, orang tua, anak-anak maupun ladang hendaknya memberi pesan kepada kita akan pentingnya untuk senantiasa memprioritaskan kehendak Allah. Ketika kita pun jatuh ke dalam godaan duniawi dan dorongan manusiawi, maka penting bagi kita untuk kembali kepada Allah dan melakukan kehendak-Nya, karena Kristus pula berfirman, “Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin”.

(Fr. Valentino Wullur)

Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya” (Ef. 1:5).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, tuntunlah kami agar senantiasa melakukan kehendak-Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini