“Kekuatan dari Sebuah Pengampunan”: Renungan, Kamis 13 Agustus 2020

0
3681

Hari Biasa (H)

Yeh. 12:1-12; Mzm. 78:56-57,58-59,61-62; Mat. 18:21-19:1.

Bertindak sesuai dengan hukum dan aturan yang berlaku adalah sebuah keutamaan yang patut diperjuangkan. Sebuah komunitas jika tidak dilengkapi dengan seperangkat hukum akan mengalami kekacauan dan ketidakpastian. Negara yang berdasarkan hukum berarti menjunjung tinggi undang-undang yang berlaku. Tujuannya adalah agar warga masyarakat mendapat jaminan dan kepastian hukum dari negara. Dengan adanya kepastian itu, hidup masyarakat menjadi lebih bisa teratur dan tidak mengalami kebingungan.

Bacaan Injil hari ini juga berbicara tentang hukum, secara khusus hukum yang mengatur tentang berapa kali seseorang harus memberi pengampunan. Dalam hal ini yang dibicarakan adalah hukum Taurat. Bagi orang Yahudi, menjalankan dan menaati hukum Taurat sampai sedetail-detailnya adalah keutamaan yang harus diperjuangkan sampai mati. Berkaitan dengan mengampuni, lebih tepatnya memaafkan, apa yang ditanyakan Petrus menjadi gambaran bagaimana seorang Yahudi menjalankan hukum Taurat dengan tepat, sampai maksimal. Mengampuni sampai tujuh kali adalah ketentuan yang tertulis dalam Taurat. Itu batas hukum yang ditentukan, jika lebih dari itu maka seseorang boleh bertindak apa saja terhadap orang yang bersalah. Namun Petrus mempunyai kegelisahan bagaimana jika yang berbuat salah lebih dari itu, apakah tetap berlaku hukum yang ada?

Berkaitan dengan mengampuni, Yesus memberikan patokan yang jauh lebih mendalam dari Taurat, yakni pengampunan yang tiada batasnya. Yesus mengajak Petrus, para murid dan kita semua untuk mempunyai kasih yang tak terbatas pada setiap orang.

Ukuran kasih yang tulus adalah ketika kita mampu memberi pengampunan kepada orang yang bersalah tak kenal berapa kali. Apakah sulit? Pasti akan sulit. Tetapi itulah panggilan kita sebagai orang Kristiani. Kita diajak untuk bertindak mengatasi hukum jika itu berkaitan dengan perkara mengasihi. Kristus telah memberi pengampunan dan penebusan yang tak terbatas bagi kita. Kita pun dipanggil untuk berbuat yang sama kepada sesama kita.

(Fr. Chrisanctus Sadrack)

“Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Yesus berkata kepadanya: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali(Mat. 18:21-22).

Marilah Berdoa:

Ya Tuhan, ajarilah kami agar kami mampu untuk mengampuni orang lain dengan tulus. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini