“Cinta Kasih Berselimutkan Pengorbanan”: Renungan, Jumat 14 Agustus 2020

0
2710

Pw S. Maximilianus Maria Kolbe, Imam dan Martir (M)

Yeh 16:1-15. 60-63; MT Yes 12:2-3.4bcd.5-6; Mat. 19:3-12.                    

Hari ini, kita memperingati Santo Maximilianus Maria Kolbe, seorang imam dari Polandia yang wafat sebagai martir di bawah kekejaman Nazi, di Kamp Konsentrasi Auschwitz, pada tahun 1941. Pada waktu itu, karena seorang tahanan berhasil melarikan diri, para tentara Nazi memilih secara acak 10 tahanan untuk dihukum mati. Salah satu dari yang terpilih tersebut adalah Franciszek Gajowniczek, seorang bapak keluarga yang tentu saja memiliki tanggung jawab atas kelangsungan hidup istri dan anak-anaknya. Maka, ia memohon belas kasih agar dibebaskan. Menyaksikan hal tersebut, Maximilianus Kolbe, yang sebenarnya tidak terpilih untuk dihukum, menyerahkan dirinya secara suka rela untuk menggantikannya menerima hukuman mati.

Injil hari ini berbicara tentang salah satu sifat perkawinan Katolik yakni tidak terceraikan. Pengorbanan Maximilianus Kolbe dapat dimaknai sebagai sebuah pengorbanan untuk mempertahankan keutuhan keluarga dari orang yang akan dihukum mati itu. Karena Maximilianus Kolbe dengan suka rela menggantikan Franciszek untuk dihukum mati, Franciszek dapat mempertahankan keutuhan keluarganya. Ia dapat kembali kepada istri dan anak-anaknya serta melaksanakan tanggung jawabnya sebagai seorang suami dan ayah yang baik. Bahkan ia dianugerahi usia sampai 94 tahun, dan sempat berjumpa dengan Paus Yohanes Paulus II pada perayaan kanonisasi Santo Maximilianus Maria Kolbe, pada tanggal 10 Oktober 1982.

Injil dan tindakan Santo Maximilianus Kolbe ini memberikan kita pelajaran bahwa salah satu hal yang amat penting untuk memelihara keutuhan perkawinan adalah pengorbanan. Dalam kisah Maximilianus Kolbe, memang dialah yang mengorbankan diri demi keutuhan keluarga Franciszek. Namun, dalam hidup berkeluarga pada umumnya tentu sikap dan semangat berkorban itu pertama-tama dan terutama dituntut dari masing-masing pasangan. Baik suami maupun istri, harus rela untuk saling berkorban: mengorbankan egoisme, kesenangan, dan kepentingan diri sendiri, demi kebahagiaan dan kesejahteraan bersama seluruh anggota keluarga. Sebuah keluarga memang dibangun dan dipelihara dengan cinta kasih, namun cinta kasih yang sejati selalu menuntut pengorbanan sehingga kasih setia itu menjadi dasar utama dalam relasi hidup sebagai keluarga. Cinta kasih hadir bagi keluarga yang mampu hidup sesuai perintah-Nya dan berkorban bagi orang lain.

(Fr. Dandi Papoto)

“Karena itu, apa yang dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia” (Mat. 19: 6).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, berilah kekuatan cinta kasih-Mu kepada setiap keluarga kristiani agar mereka  dapat menjadi saksi cinta-Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini