“Balasan atas Perbuatan”: Renungan, Jumat 7 Agustus 2020

0
1859

Hari Biasa Pekan XVII (H)

Nah. 1:15; 2:2; 3:1-3,6-7; Ul. 32:35cd36ab,39abcd,41; Mat. 16:24-28

Suatu hari, ada seorang pria yang memiliki kebiasaan baik dalam membantu orang lain dan kepekaan akan hal-hal di sekitarnya. Ia bertemu seorang ibu dan anaknya yang mengemis di jalan demi biaya sekolah anaknya itu. Pria itu pun memberikan uang dengan jumlah yang tidak ia pedulikan. Suatu ketika, ia melihat sang ibu sendirian. Tak lama, anak tersebut datang dan membuat pria itu terkejut. Anak itu memakai seragam sekolah dengan senyum bahagia yang terpancar dari wajahnya. Pria itu pun menjadi bahagia. Sebab, hal baik yang dilakukannya ternyata membuat mereka yang menerima kebaikannya itu merasakan sukacita yang besar. Dari perbuatan baiknya, ia mendapat balasan cinta yang tulus lewat senyuman dan pelukan bahagia. Kebaikan yang selalu ia perbuat setiap hari adalah sukacita baginya.

Dalam bacaan pertama dikisahkan bahwa Tuhan berfirman kepada Yehuda dan Niniwe. Bagi Yehuda, Tuhan menghendaki agar mereka berpesta oleh sebab Tuhan telah memulihkan kebanggaan Yakub. Sedangkan bagi Niniwe, Tuhan menimpakan hukuman oleh sebab kota itu seluruhnya adalah dusta belaka yang penuh dengan barang rampasan. Niniwe menjadi kota penumpah darah. Mereka membunuh banyak orang dan membiarkan bangkainya bertumpuk-tumpuk. Tentu hal ini tidak sejalan dengan kehendak Tuhan. Mereka bertentangan dengan kehendak Tuhan dan karena itulah, Tuhan memberikan hukuman yang setimpal atas perbuatan jahat dan kejam yang telah mereka lakukan.

Dalam Injil hari ini, Yesus memberikan syarat bagi kita yang ingin menjadi pengikut-Nya yang setia, yakni menyangkal diri, memikul salib, dan mengikuti Dia. Syarat ini memang terdengar sulit bagi kita yang hidup dalam perkembangan zaman yang serba instan. Menyangkal diri berarti bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan, berani menyangkal diri daripada memenuhi keinginan duniawi semata. Memikul salib berarti berani berkorban dan melayani demi cinta kasih akan sesama, seperti pengorbanan Yesus di salib. Karena itu, ketika kita hendak memilih dan melakukan sesuatu, ingatlah akan kata-kata Yesus: “Ia akan membalas setiap orang setimpal dengan perbuatannya”. Karena itu, hendaknya kita pun melakukan perbuatan baik atas dasar dan semangat cinta kasih serta peka akan hal-hal di sekitar meskipun kecil dan sederhana, seperti kata Bunda Teresa dari Kalkuta: “Lakukanlah hal-hal kecil dengan cinta yang besar”.

 (Fr. Giovanny Diamanti)

“Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya” (Mat. 16:27b).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, mampukanlah kami untuk selalu berbuat baik dengan semangat cinta kasih. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini