“Menjadi Sesawi dan Ragi”: Renungan, Senin 27 Juli 2020

0
5137

Hari Biasa (H)

Yer. 13:1-11; MT Ul.32:18-19,20,21; Mat. 13:31-35

Biji sesawi adalah biji yang paling kecil di antara biji-biji lainnya, namun ketika ia tumbuh, ia dapat menjadi tanaman sayuran yang cukup tinggi bahkan burung-burung dapat bersarang di atasnya. Demikian pula halnya dengan ragi. Meskipun ia dimasukan ke dalam adonan tepung yang cukup banyak, namun dengan sedikit ragi, adonan tepung tersebut mampu menjadi khamir sehingga adonan tersebut menjadi lebih banyak. Kedua perumpamaan tersebut digunakan Yesus untuk menggambarkan tentang Kerajaan Surga.

Biji sesawi memerlukan proses yang panjang dan lama untuk dapat bertumbuh dan berkembang, begitupun sebaliknya dengan ragi yang membutuhkan waktu dan usaha sehingga menghasilkan adonan yang baik. Sesawi dan ragi dalam perumpamaan Yesus digunakan oleh-Nya sebagai sesuatu yang menghasilkan kebaikan. Namun keduanya membutuhkan proses yang panjang untuk membawa pertumbuhan dan perkembangan dari sesuatu yang kecil menjadi sesuatu yang besar dan berguna. Sebenarnya kedua perumpamaan ini mau mengungkapkan bahwa Kerajaan Surga yang diwartakan Kristus, bukanlah rumusan atau suasana yang membutuhkan pengetahuan tingkat tinggi untuk memperolehnya.

Justru melalui hal-hal sederhana saja orang beriman dapat menemui Kerajaan Surga dalam kehidupan mereka. Sesawi dan ragi membutuhkan proses dan kerja, begitupun manusia perlu melalui setiap kesulitan, proses bertumbuh seperti sesawi dan proses mengkhamiri adonan seperti ragi. Sebab kualitas keberimanan setiap manusia adalah menjadikan sukacita dan dukacita sebagai pembentukan menjadi anak-anak Allah. Kristus mendambakan manusia menjadi pembawa suasana Kerajaan Surga bagi sesama, perlu menyadari sudahkah setiap ucapan bibir dan sikap menjadi rumah seperti sesawi bagi burung-burung dan sudahkah menjadi makanan yang baik seperti adonan yang beragi.

Kisah Nabi Yeremia tentang ikat pinggang adalah gambaran dimana manusia yang jauh tanpa mendekatkan diri kepada Allahnya, adalah ikat pinggang yang lapuk dan kemudian hancur. Kristus dalam Perjanjian Baru hadir dengan berkata dan bertindak secara langsung, kemudian memperjelas semua itu bahwa mereka yang mau melihat lebih dalam situasi hidupnya, akan melihat Kerajaan Surga dalam hal-hal kecil, dan menjadi demikian bagi sesamanya. Maka orang-orang seperti itu tak akan pernah jauh dan menjadi lapuk sampai kapanpun.

 (Fr. Bryan Isidorus Resubun)

“Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis biji, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar daripada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabang-Nya” ( Mat. 13:32).

Marilah Berdoa:

Tuhan Yesus Kristus, tuntun dan bimbinglah hamba-Mu agar dapat bertumbuh dan berkembang dalam kasih-Mu. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini