“Pamer Mukjizat”: Renungan, Jumat 26 Juni 2020

0
1742

Hari Biasa (H).

2Raj.25:1-12; Mzm. 137:1-2,3,4-5,6; Mat. 8:1-4;

Saudaraku, sebagai pengikut Kristus kita tentu punya pengalaman “dijamah” Tuhan atau lebih kita kenal dengan mukjizat. Mukjizat ini sungguh luar biasa sebab ia hadir melampaui pikiran yang cenderung tidak yakin dan melibatkan iman kita dengan sikap berpasrah kepada Tuhan. Mukjizat paling umum ialah pengalaman kita sembuh dari sakit. Misalkan ketika dokter menyatakan sakit tidak bisa sembuh atau tinggal menghitung waktu dan tiba-tiba sembuh, kita lalu berterimakasih atas mukjizat yang terjadi.

Demikian pula dalam bacaan hari ini mukjizat dialami oleh seorang yang sakit kusta. Pada zaman Yesus, penyakit ini dianggap sebagai aib. Seorang yang terkena kusta disingkirkan dari masyarakat karena penyakit ini dipandang sebagai kutukan Tuhan. Sungguh tragis, seorang kusta itu menderita sakit fisik dan batin. Menarik bahwa ketika Yesus sedang bersama orang banyak turun dari bukit, si orang kusta datang dengan iman yang besar dan memohon  kepada Yesus untuk dapat mentahirkannya. “Aku mau jadilah engkau tahir” demikian Sabda Yesus kepadanya yang membuat ia mengalami kesembuhan secara spontan baik fisik maupun batin. Tetapi selanjutnya Yesus memperingatkan dia untuk tidak memberitahukan kepada siapapun soal mukjizat-Nya itu. Sebaliknya, Yesus menyuruh kepadanya untuk menghaturkan persembahan di bait Allah.

Kita pun dalam hidup kadang mengalami pergumulan yang sama. Ketakutan kita akan masalah-masalah dalam hidup seperti ekonomi, sosial, politik, menyebabkan kita merasa berat secara rohani atau pun sakit yang melemahkan fisik kita. Seperti orang kusta tadi kita harus berani datang kepada Yesus dalam segala kepasrahan dan kerendahan hati, sebab hanya Dialah yang mengenal kita dan bisa mentahirkan kita dari segala sakit.

Selanjutnya, sebagai orang yang mengalami mukjizat Tuhan, kita perlu untuk tidak terjerumus dalam kesombongan rohani. Menurut Yesus tindakan yang tepat adalah melayani sesama dalam cinta kasih sebagai bentuk persembahan kepada Tuhan. Jadi, bukan menyombongkan atau memamerkan mukjizat yang dialami. Tanpa pamer, Allah akan menolong kita kapan pun dan dalam bentuk apapun.

(Fr Laurenzo Geraldo Lolong)

“Aku mau, jadilah engkau tahir” (Mat. 8:3).

Marilah berdoa:

Tuhan, bantulah aku agar tidak hanya menjadi penggemar mukjizat-Mu tetapi benar-benar setia beriman kepada-Mu selama-lamanya. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini