“Aku Tak Sempurna”: Renungan, Senin 22 Juni 2020

0
2039

Hari Biasa (H)

2Raj. 17:5-8,13-15a,18; Mzm. 60:3,4-5,12-13; Mat. 7:1-5

Saudara terkasih, kita semua tentu menghendaki supaya tidak dihakimi oleh orang lain. Semua manusia adalah makhluk yang tidak sempurna. Oleh karena ketidaksempurnaan itu, sebelum menghakimi orang lain, alangkah baiknya kalau kita melihat ke dalam diri kita sendiri, kita bercermin sejauh mana diri kita di hadapan orang lain, terutama di hadapan Tuhan.

Hari ini penginjil Matius menunjukkan kepada kita bagaimana pandangan Yesus tentang orang yang suka menghakimi. Yesus mengingatkan kepada kita untuk tidak menghakimi, supaya kita tidak dihakimi oleh orang lain. “Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu” (Mat. 7:2).

Dalam kehidupan kita sehari-hari, tak jarang orang melihat kelemahan dan kesalahan orang lain sebagai celah untuk menjatuhkannya. Sebagian orang merasa bahwa mereka memiliki kemampuan-kemampuan dalam diri melebihi sesamanya. Karena perasaan sombong itulah orang dengan penuh leluasa menjatuhkan orang lain. Yesus dalam bacaan Injil menyebut mereka yang suka menghakimi sebagai orang-orang yang munafik. Yesus menegaskan bahwa lebih baik keluarkan dahulu balok yang ada dalam mata kita, barulah kita mengeluarkan selumbar di mata saudara kita.

Kita tidak pantas untuk saling menghakimi, karena satu-satunya yang bisa menghakimi dengan adil adalah Allah sumber keselamatan kita. Kadangkala kita sebagai manusia lupa diri ketika menghakimi orang yang berbuat salah. Kita menunjuk orang lain dengan satu jari, tetapi jari-jari yang lain balik menunjuk kita. Artinya, menghakimi orang lain bukan berarti kita adalah orang yang paling benar dan tidak pernah melakukan kesalahan. Sebagai orang beriman kita hendaknya selalu mau untuk mengintrospeksi diri, mau untuk memperbaiki kesalahan dalam diri terlebih dahulu.

Pertanyaan dalam bacaan Injil kiranya sangat jelas bagi kita. Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudara kita? Mengapa kita sibuk mencari kesalahan orang lain agar bisa menjatuhkan dan mempermalukannya? Ingatlah bahwa ukuran yang kita pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepada kita. Lalu, apa yang seharusnya kita lakukan untuk saudara kita yang berbuat salah? Kita seharusnya saling mengingatkan dan menasehati. Ingatkan dia jika berbuat salah, bukan menjatuhkannya dalam kesalahannya. Berikan nasihat yang positif, bukan mempermalukan dia.

(Fr. Johanis Raharusun)

“Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi” (Mat. 7:1).

Marilah berdoa

Bapa, tuntunlah kami untuk tidak saling menghakimi. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini