Hari Biasa Pekan IV Paskah (P)
Kis. 12:24 – 13:5a; Mzm. 67:2-3,5,6,8; Yoh. 12:44-50
Pada milenium ini, kemerosotan moral telah merasuki seluruh kehidupan manusia. Nilai kehidupan yang baik dan berharga tidak lagi diterima sebagai warisan istimewa, tetapi dinilai sebagai sesuatu yang kuno alias ketinggalan zaman. Sehingga, kejahatan pun mulai merebak di mana-mana dan meracuni kehidupan manusia. Bahkan turut mempengaruhi cara manusia dalam menghakimi sesamanya. Di mana pada zaman ini, penghakiman yang dilakukan, selalu diselesaikan dengan kekerasan. Maka, tidak heran jika kedamaian dan kebahagiaan kebanyakan orang hanya dirasakan sebagai impian belaka.
Injil hari ini mengetengahkan kepada kita bagaimana sikap Yesus akan penghakiman. Yesus sendiri berkata: “Aku datang bukan untuk menghakimi dunia, tetapi untuk menyelamatkannya.” Hal ini berarti bahwa tugas utama Yesus bukanlah sebagai hakim atas dunia melainkan untuk menyelamatkan dunia. Yesus sendiri telah mengatakan bahwa yang menjadi hakim dan berhak menghakimi dunia adalah Bapa yang di surga. Bapa sendiri sebagai hakim atas dunia tidak ingin umat-Nya dihakimi. Karena itu, Bapa mengutus Putra-Nya ke dunia sebagai terang untuk menerangi jalan hidup manusia menuju kehidupan yang kekal dan terhindar dari penghakiman. Perutusan Yesus ini kemudian dilanjutkan oleh para murid-Nya, sebagaimana yang dikisahkan dalam bacaan pertama. Di mana, Roh Kudus memerintah agar Barnabas dan Saulus dikhususkan bagi tugas yang telah ditentukan kepada mereka. Keduanya pun langsung mengikuti apa yang diperintahkan tanpa memberikan protes atas perintah yang diberikan.
Sebagai orang beriman yang percaya kepada Kristus, kita pun dipanggil untuk turut ambil bagian dalam tugas perutusan-Nya. Di mana, kita dipanggil dan diutus untuk menjadi pembawa terang keselamatan kepada dunia yang sedang mengalami kemerosotan moral ini dan bukan dipanggil untuk menghakimi dunia. Walaupun harus diakui bahwa dalam menjalankan tugas perutusan ini, bukanlah hal yang mudah. Sebab, sebagai utusan Kristus terkadang kita pun ditolak dan dihina oleh orang-orang yang memiliki cara pandang yang berbeda. Kendati demikian, percayalah bahwa melalui terang Kristus, kita sebagai pengikut-Nya pun dapat menjadi terang bagi dunia dan bukan menjadi hakim bagi dunia.
(Fr. Stanislaus Andris Laritmas)
“Barangsiapa percaya kepada-Ku, ia bukan percaya kepada-Ku, tetapi kepada Dia, yang telah mengutus aku” (Yoh 12:44)
Marilah berdoa:
Ya Tuhan, terangilah sisi-sisi gelap-ku, agar aku pun mampu menjadi terang bagi dunia dan bukan menjadi hakim bagi dunia. Amin.











