“Bertekun”: Renungan, Selasa 12 Mei 2020

0
1997

Hari Biasa Pekan V Paskah (P)

Kis.14:19-28; Mzm.145:10-11,1213ab,21; Yoh.14:27-31a.

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus melukiskan tentang hal yang akan terjadi kepada para rasul di masa mendatang. Para rasul hendak menerima penganiayaan dan kesengsaraan. Mengapa mereka harus teraniaya dan sengsara? Apakah ini hasil dari mereka dapatkan setelah mengikuti Yesus? Ya, demikianlah ditegaskan konsekuensi dalam mengikuti Yesus. Namun, sudah barang tentu Yesus tidak membiarkan sahabat-sahabat-Nya berjalan sendiri.

Yesus yang meninggalkan para murid bukan berarti menelantarkan mereka. Ia memberikan damai sejahtera kepada para murid-Nya. Damai sejahtera merupakan anugerah terindah yang ditinggalkan Yesus kepada murid-murid-Nya. Dengan demikian mereka bisa bertekun dalam karya mereka. Damai sejahtera inilah yang kemudian membuat rasul Paulus dan Barnabas dapat kembali ke Antiokhia, Listra dan Ikonium.

Mereka dapat bertahan dari berbagai macam penganiayaan dan kesengsaraan karenanya. Apa sebenarnya kunci dalam menanggapi penganiayaan yang mereka hadapi. Semua itu dapat dilakukan karena kabar baik yang diwartakan telah dilandaskan atas dasar kasih. Kasih itu nampak ketika mereka saling menguatkan satu dengan yang lain. Mereka saling menopang agar bertahan di dalam penganiayaan dan kesengsaraan.

Selaku pengikut Kristus di zaman milenial, kita tentu diperhadapkan dengan berbagai situasi dan kondisi. Kita mempunyai permasalahan dan problematika yang dapat menggoncang iman kita. Akan tetapi, kita diharapkan agar tetap bertekun dalam iman, harap, dan kasih. Kita tetap beriman kepada Yesus Sang Juruselamat kita. Kita tetap berpengharapan kepada Dia yang mengutus kita. Kita tetap mengasihi Dia dan sesama kita.

Yesus mengharapkan agar kita tetap teguh dalam menjalani hidup keseharian kita. Ia ingin agar kita tetap kuat dan semangat walaupun banyak godaan, masalah, dan cobaan. Ia ingin agar kita bangkit dari keterpurukan yang datang menghampiri. Ia ingin agar kita tetap bertahan walaupun kita dibenci oleh dunia karena nama-Nya.

Damai sejahtera yang Ia berikan kepada para rasul telah diwariskan kepada kita. Sebuah spirit yang membuat kita kuat dan menjadi berani dalam mewartakan kabar sukacita Injil. Kita tak perlu ragu dan tak perlu goyah. Sebab, Ia akan selalu menyertai kita hingga akhir zaman.                                                                                         

(Fr. Fernando Letsoin)

“Tetapi supaya dunia tahu, bahwa Aku mengasihi Bapa dan bahwa Aku melakukan segala sesuatu seperti yang diperintahkan Bapa Kepada-Ku” (Yoh. 14:31a).

Marilah berdoa:

Tuhan, berikanlah damai sejahtera kepada kami umat-Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini