“Ecce Homo” : Renungan, Jumat 10 April 2020

0
1554

HARI JUMAT AGUNG (M)

Yes. 52:13-53:12; Mzm. 31:2,6,12-13,15-16,17,25; Ibr. 4:14-16; 5:7-9; Yoh. 18:1 – 19:42.

Ketika mendengar peristiwa kurang lebih 2000 tahun yang lalu dimana seorang pria yang dipandang sebagai orang kudus oleh khalayak Yahudi dan non-Yahudi. Menjalani hukuman mati ala Romawi, spontan penasaran muncul dari mereka baik yang bukan Nasrani maupun ya. Orang Penasaran akan kisah ini, tentang proses peradilan Kristus. Teringat akan perdebatan dan ketertarikan publik akan kisah sengsara Kristus, semua sentak pasti teringat dengan film drama epik yang bersumber dari empat Injil dan disutradari oleh Mel Gibson serta Jim Caviezel sebagai Kristus. Rasa takjub, heran, ngeri hingga berujung pada sebuah tangisan pasti adalah sebuah respon spontan setelah menonton. orang Nasrani akan terharu bukan hanya karena kekejaman dan hukuman terhadap Kristus, tapi karena kesadaran dan iman bahwa Dia rela menjadi demikian supaya manusia yang Dia sebut sahabat dan saudara dapat selamat dari kekotoran dosa.

Hari ini bacaan-bacaan kitab suci menghantar orang beriman untuk merenungkan kembali peristiwa sengsara dan wafat Yesus. Injil Yohanes secara panjang lebar mengisahkan peristiwa ini mulai dari Kristus ditangkap hingga Dia dikuburkan. Dari peristiwa ini nampak jelas bagaimana sebuah persekutuan mengalami kehancuran, di mana anggota-anggota tercerai-berai dan pemimpinnya diperlakukan secara tidak hormat. Bukan hanya itu semua orang yang dulunya menghormati dan memuji yang mereka sebut Rabi itu, kini berbalik memusuhi dan mencela Dia. Semuanya dikisahkan begitu memilukan dan secara manusiawi kesengsaraan yang dialami Yesus, bukan saja sengsara fisik yang luar biasa tapi secara batin mengalami pergolakan karena semua orang yang dulunya berada di sisi-Nya ini lari hingga ada yang mengaku tak mengenal-Nya. Namun bagi Yesus semua itu tak menghalangi kesetiaan dan ketaatan-Nya kepada Bapa. Demikian Yesus menunjukkan teladan menjadi manusia yang sejati dalam kesetiaan dan ketaatan.

Secara liturgis bersama gereja universal, umat katolik hari ini mengenangkan sengsara dan wafat Tuhan. Mengenangkan bukan hanya berarti mengikuti jalan salib yang didramakan begitu mengharukan dan sungguh-sungguh. Tapi di dalam hati hendaknya setiap orang beriman sadar bahwa bacaan-bacaan kitab suci hari ini benar-benar membawa kembali kebenaran iman yang diyakini gereja, yaitu kesetiaan sang sabda yang menjadi manusia hingga rela dan wafat untuk menyelamatkan umat manusia. Jumat Agung menjadi kesempatan bagi umat beriman untuk merenungkan kembali kehidupan mereka apakah sudah sepantasnya menjadi manusia yang rela bersengsara bagi kemanusiaan.

(Fr. Joctaf Geres)

“Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu, hai semua orang berharap kepada Tuhan” (Mzm 31: 25).

Marilah berdoa:

Ya Bapa, ajarlah kami meneladani kesetiaan dan ketaatan Putera-Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini