“Bukti yang Dicari”: Renungan, Rabu 15 April 2020

0
1818

Hari Rabu dalam Oktaf Paskah (P).

Kis. 3:1-10; Mzm. 105:1-2,3-4,6-7,8-9; Luk. 24:1335. 

Suatu bukti amat penting untuk membuat orang lain percaya tentang kebenaran yang kita beritakan. Tanpa bukti ini, orang tentu tak akan percaya tentang apa yang kita katakan. Sebaliknya setiap hal yang terbukti, pasti tak akan diragukan lagi.

Dalam bacaan pertama, dikisahkan bagaimana Petrus menyembuhkan seorang lumpuh, yang sudah lumpuh sejak lahir. Penyembuhan orang lumpuh itu, menjadi bukti yang membuka mata banyak orang akan kuasa Allah yang diberikannya kepada Yesus Putera-Nya, dan dibagikan atau diteruskan pula kepada para rasul. Kuasa Allah itu pun sesungguh diteruskan juga dan ditunjukkan kepada setiap orang. Kebenaran mengenai kuasa Allah yang diberikan kepada Yesus masih sulit diterima oleh banyak orang pada masa itu. Orang-orang pada masa itu selalu menuntuk bukti mengenai kuasa Allah itu. Bukti terbesar dari kuasa Allah yang diberikan kepada Yesus, ditunjukkan oleh Yesus sendiri melalui sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya. Namun banyak orang belum juga percaya akan hal itu.

Kabar kebangkitan Yesus yang diberitakan oleh malaikat pun, tidak diterima begitu saja oleh para muridnya. Nampaknya masih ada beberapa murid Yesus yang belum percaya akan kabar kebangkitan Yesus, sebagaimana dikisahkan dalam bacaan injil. Penampakan Yesus kepada mereka kemudian menjadi bukti yang membuka mata hati mereka. Bukti yang Yesus berikan itu kemudian membuat para murid yang belum percaya itu jadi benar-benar percaya.

Dalam hidup sehari-hari, kadang kita juga sulit untuk percaya akan kebenaran yang dinyatakan kepada kita. Kita selalu menuntuk bukti untuk semua itu. Bahkan, seringkali dalam hal iman dan kepercayaan kita pun, kita selalu kurang percaya dengan semua yang kita dengar dan selalu saja meminta bukti akan kebenaran iman itu. Yesus tentu menginginkan kita menjadi orang yang senantiasa percaya akan kebenaran iman yang dinyatakan. Ia menegur dua orang murid yang ditemui-Nya dalam perjalanan ke Emaus, karena mereka juga sulit untuk percaya. Kata-Nya: “Hai kamu orang bodoh, betapa lambatnya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang dikatakan para nabi!”.

Sebagai murid Yesus yang sejati marilah kita juga senantiasa percaya akan setiap kebenaran yang sesuai dengan apa yang kita imani. Marilah kita menjadi orang yang tidak banyak menuntut bukti namun tetap percaya dan berserah diri kepada Allah dan kuasa-Nya.

(Fr. Gabriel Billy Runtu)

“Emas dan Perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah” (Kis. 3:6).

Marilah berdoa:

Tuhan, bantulah kami untuk senantiasa percaya kepada-Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini