“Berbagi Roti di Meja Kristus”: Renungan, Minggu 26 April 2020

0
2325

Hari Minggu Paskah III (P)

Kis. 2:14,2233; Mzm. 16:1-2a,5,7-8,9-10,11; 1Ptr. 1:17-21; Luk. 24:13-35.

Pemecahan roti, bahasa Latin-nya Fractio panis atau klasis tou artou dalam bahasa Yunani, maksudnya berbagi rejeki, memberi kepada orang lain sesuatu yang diperlukan untuk hidup. Bagi orang Yahudi yang saleh inilah ucapan syukur atas kebaikan Tuhan. Yesus melakukan tindakan itu untuk menyatakan pemberian diri-Nya sebagai kurban demi keselamatan manusia. Umat Kristen awal melestarikan pemecahan roti sebagai pilar penghayatan iman akan Kristus yang bangkit, dan Gereja Katolik merayakannya sebagai jantung seluruh liturgi dan ibadatnya.

Gereja menunjukkan keagungan dan keunggulan Liturgi Ekaristi atas semua bentuk ibadat lainnya. Ibadat adalah tindakan manusia untuk memuji Allah, sedangkan Liturgi adalah karya Allah untuk menyelamatkan manusia. Yesus memuncaki penjelasan-Nya mengenai berita Alkitab tentang Mesias dengan tindakan Pemecahan roti. “Ia menjelaskan apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi.”

Penjelasan isi Alkitab membuat hati kedua murid berkobar-kobar, namun tidak cukup untuk  membuat mereka  mengenal Yesus. Hanya melalui pemecahan roti, barulah mata mereka terbuka dan mereka mengenal Dia. Pemecahan roti menjadi puncak pernyataan identitas diri serta karya Yesus. Itulah saat para murid mengenal identitas guru mereka yang telah mati di salib tetapi sekarang bangkit sebagai Pemenang.

Hari ini kita menemukan betapa pentingnya Perayaan Ekaristi dalam hidup para murid Kristus. Inilah tempat dan saat para murid berjumpa dengan Kristus yang hadir secara nyata dalam Sabda dan tindakan-Nya. Tindakan yang menyatakan kasih dan kebijaksanaan Allah untuk menyelamatkan manusia melalui pengurbankan diri Putera-Nya. Ekaristi adalah sekolah keselamatan abadi; inti pelajarannya adalah kurban Kristus. Dalam Pemecahan roti dengan kuasa Roh-Nya, Yesus mengajar, melatih dan mengutus para murid untuk hidup seperti Dia.

Pewartaan Firman bisa mengobarkan hati, namun budi dan mata manusia hanya dapat dibuka oleh pelaksanaan Firman. Untuk mencari makan, seseorang cukup menjadi pewarta Firman, tetapi untuk menjadi saksi Kristus orang harus menjadi pewarta dan pelaksana Firman seperti Yesus. Menurut Alkitab, Allah telah menciptakan alam semesta cukup dengan berfirman, namun untuk menyelamatkan manusia Allah  menyerahkan Tubuh dan Darah Putera-Nya sebagai kurban keselamatan. Itulah sumber, pusat dan puncak hidup para murid Yesus, dan menjadi jantung Liturgi Gereja.

(P. Julius Salettia, Pr)

“Yesus mengambil roti, … lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. Ketika itu terbuka mata mereka, dan merekapun mengenali Dia.” (Luk. 23:30-31)

Marilah Berdoa:

Tuhan tinggallah bersama kami.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini