“Pengenalan yang Menyelamatkan”: Renungan, Selasa 31 Maret 2020

0
1689

Hari Biasa Pekan V Prapaskah

Bil. 21:4-9, Mzm. 102:2-3, 16-18, 19-21; Yoh. 8:21-39

Tahun 2019 negara Indonesia melaksanakan pesta rakyat secara serentak di seluruh wilayah provinsi, kabupaten dan kota yaitu pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, Dewan Perwakilan Tingkat Daerah dan Pusat. Pertanyaan yang muncul setelah melewati momentum tersebut adalah mengapa pemilihan wakil-wakil rakyat ini disebut sebagai pesta rakyat. Ya karena dari momentum itu sebenarnya banyak orang mengharapkan sukacita, kesejahteraan dan kemakmuran dari mereka yang dipilih dan dipercayakan hak rakyat. Oleh sebab itu jauh sebelum momentum demokrasi ini dimulai, para calon mulai memperkenalkan diri dengan mengemukakan cita-cita, visi, prestasi bahkan bukti kepimpinan mereka melalui kampanye.

Hari ini Injil Yohanes menceritakan Tuhan yang memperkenalkan diri kepada umat-Nya bukan dengan berorasi, kampanye atau pidato dengan tujuan politis. Dia hadir bukan hanya menawarkan kesejahteraan, kemakmuran dan kebahagiaan fisik tapi keselamatan umat-Nya.

Kehadiran Tuhan di antara manusia adalah bagaikan kehadiran seorang bapa di tengah anak-anaknya. Sebab kehadiran Yesus di antara manusia memperkenalkan manusia bukan hanya dengan Anak tapi dengan Bapa yang mengutus-Nya.

Dalam Kitab Bilangan, pengenalan manusia akan Allah mengalami kegagalan total akibat nafsu dan keinginan manusiawi untuk terus merasakan kenikmatan di bawah kungkungan perbudakan Mesir. Sehingga kegagalan dari pengenalan manusia akan Allah adalah ketidakpercayaan yang membuahkan kebinasaan. Namun mereka yang bertobat dan berpaling dari nafsu kenikmatan memperoleh keselamatan. Demikian Bacaan pertama menjadikan pembebasan Bangsa Israel dari tanah Mesir sebagai peristiwa Allah memperkenalkan diri-Nya melalui penyelamatan dari perbudakan menuju Tanah Terjanji.

Bacaan pertama dan Injil hari ini menghadirkan pengenalan yang sejati akan Allah. Syaratnya adalah percaya kepada rencana-Nya bagi manusia. Dan kepercayaan yang sejati adalah “melihat lebih lama dan melihat lebih jauh sesuatu yang baik akan datang dariNya”. Berarti, bersabar akan segala yang akan terjadi.

Bacaan-bacaan Kitab Suci pada Pekan Prapaskah yang kelima ini, mengajak setiap orang untuk meneladani sikap iman dua kelompok orang yang menyadari kegagalan dan ketidaksabaran mereka untuk menantikan rencana Allah bagi mereka. Yaitu pertobatan Orang Yahudi yang dipimpin Musa keluar dari Mesir dan kepercayaan Orang Yahudi setelah mendengarkan firman Yesus. Orang yang bertobat dan percaya adalah mereka yang beriman kepadaNya, merasakan rasa aman dalam lindungan-Nya dan akhirnya bersikap amin akan segala sesuatu.

(Fr. Joctaf Geres)

“Sebab Aku senantiasa berbuat apa yang berkenan kepada-Nya” (Yoh. 8: 29).

Marilah berdoa:

Tuhan, ajarlah kami bersabar dalam rencana-Mu. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini