”Kasih-Mu Menyelamatkan”: Renungan, Selasa 7 Januari 2020

0
2118

Hari Biasa sesudah Penampakan Tuhan (P)

BcE 1Yoh. 4:7-10; Mzm. 72:2,3-4ab,7-8; Mrk. 6:34-44

Berbicara mengenai sihir tentunya merupakan suatu hal yang hanya dapat dimengerti dan diterima oleh sebagian orang. Hal ini dikarenakan oleh adanya anggapan bahwa hal itu dilakukan dengan mantra atau bantuan dari para jin atau makhluk gaib. Melalui penginjil Markus, Tuhan menunjukkan kuasanya yang luar biasa. Bukan sekedar sihir yang dianggap terjadi  karena adanya bantuan dari para jin.

Tuhan menunjukkan kuasanya dengan membuat mukjizat dengan menggandakan lima roti dan dua ikan untuk dimakan oleh lima ribu orang. Hal ini tentunya merupakan hal yang luar biasa di mata manusia. Namun jauh dari itu penginjil Markus hendak mengajak kita untuk melihat di balik dari mujizat tersebut. Dengan kata lain hal apa yang mendasar sehingga menggerakkan Tuhan untuk melakukan mukjizat tersebut?

Secara jelas dikatakan bahwa karena tergerak hati oleh belas kasihan, maka Yesus menggandakan lima roti dan dua ikan untuk dimakan oleh lima ribu orang. Peristiwa ini hendak mengungkapkan bahwa Tuhan lebih dahulu telah mengambil sikap inisiatif terhadap hidup manusia. Sikap di mana Tuhan lebih peka terhadap situasi yang terjadi dalam kehidupan manusia. Hal ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak pernah menghendaki agar kita mengalami penderitaan di dalam hidup ini.

Oleh karena itu, dalam bacaan yang pertama melalui surat Yohanes yang pertama dikatakan bahwa Allah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dunia supaya kita dapat hidup oleh-Nya. Peristiwa pengutusan Anak Allah ke dunia ini menjadi puncak dari cinta kasih Allah kepada manusia. Karena itu, sebagai anak-anak Allah patutlah kita mensyukuri semua berkat dan cinta kasih yang telah diberikan Allah kepada kita.

Belajar dari Allah yang adalah kasih dan kasih itu berasal dari pada-Nya. Sebagai pengikut-Nya, kita perlu membangun kesadaran untuk mengasihi dan mengenal Allah. Hal ini dikarenakan, barang siapa tidak mengasihi Allah maka ia tidak mengenal Allah. Maka, marilah kita saling mengasihi agar Allah yang adalah kasih selalu tinggal dalam kehidupan kita.

(Fr. Albertus Ranbasar) 

“Marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah” (1 Yoh. 4:7).

Marilah berdoa:

Ya Allah, bukalah hati kami untuk dapat menjadi peka terhadap lingkungan hidup kami agar cinta kasih-Mu dapat kami pancarkan di tengah kehidupan dunia ini. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini