“Persiapan Fisik dan Spiritual”: Renungan, Minggu 22 Desember 2019

0
1998

Hari Minggu Adven IV (U)

Yes. 7:10-14; Mzm. 24:1-2,3-4ab,5-6; Rm. 1:1-7; Mat. 1:18-24

Perayaan agung kelahiran Yesus Kristus tidak lama lagi. Dalam mempersiapkan pesta kelahiran Yesus sudah banyak hal telah dibuat dan sedang dibuat. Secara fisik, dimana-mana sudah dipasang ornamen-ornamen natal seperti pohon natal, lampu natal dan gua natal. Umat dan masyarakat mulai memperindah halaman dan rumah mereka; ada yang mengecat pagar dan rumah bagian dalam dan luar, membeli kursi yang baru, mengadakan televisi yang baru, prabot-prabot rumah yang baru juga diadakan. Pemandangan yang tidak kalah seru yakni hari-hari ini begitu banyak orang datang ke kota untuk membeli keperluan pesta natal dan akibatnya kemacetan dimana-mana belum lagi ada konvoi anak-anak muda membagi hadiah-hadiah kepada anak-anak yang dikemas dalam acara “Santa Claus”.

Mempersiapkan diri secara fisik demikian untuk menyambut kelahiran tidak ada yang salah, tetapi lebih baik juga kalau dibarengi dengan persiapan rohaniah-spiritual. Hal ini berarti menyambut Tuhan yang akan lahir di dunia membutuhkan persiapan hati yang suci dan saleh agar kedatangan Tuhan sungguh-sungguh membawa hikmat bagi umat tetapi juga kelahiran Tuhan mendapatkan tempat yang layak di hati masing-masing umat beriman. Salah satu tokoh sentral dalam peristiwa kelahiran Tuhan Yesus adalah Yoseph, ayah dari Yesus yang kecil.

Dalam Injil hari ini St. Yoseph ditampilkan sebagai figur yang saleh dan benar. Ia tidak ingin mempermalukan Maria, tunangannya kepada orang banyak karena itu ia berencana menceraikannya dengan diam-diam. Dia tahu bahwa anak yang dikandungnya bukan berasal dari perbuatannya. Karena itu, ia mengambil jalan atau cara demikian. “Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri. Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam “ (ay 18-19). Tindakan tidak ingin mempermalukan orang lain kepada orang banyak seperti yang dibuat oleh Yoseph adalah tindakan orang yang saleh dan benar. Di satu sisi Yoseph tidak mau Maria itu dipersalahkan, diejek, dipermalukan bahkan bisa dihukum oleh orang banyak, apalagi memang dalam hukum Yahudi kalau seorang wanita hamil di luar nikah maka hukumannya sangat berat. Di sisi lain, Yoseph “mau” menunjukkan kepada orang banyak bahwa bukanlah dialah pelakunya dan ini memberikan penegasan bahwa sesungguhnya Yoseph adalah pribadi yang tulus hati dan saleh.

Sebentar lagi, kita akan merayakan pesta kelahiran Tuhan Yesus. Kita mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambut kelahiran tersebut. Secara fisik kita boleh mempersiapkan banyak hal tetapi juga secara spiritual kita dapat mempersiapkannnya. Belajar dari hati seorang bapak Yoseph ini; punya hati yang benar dan tulus iklas disertai dengan hidup yang saleh. Persiapan fisik dan spiritual yang mantap membuat kita boleh bersukacita dan bergembira menyambut pesta NATAL.

                                                                                                 (Redaksi Lentera Jiwa)

“Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam” (Mat. 1:19).

Marilah berdoa:

Ya Allah kami di surga, semoga kami dapat mempersiapkan hati dan budi serta kehendak kami untuk menyambut pesta kelahiran Tuhan kami Yesus Kristus. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini