“Baptisan dengan Api”: Renungan, Minggu 8 Desember 2019

0
3313

Hari Minggu Adven II

 Yes. 11: 1-10; Mzm. 72: 1-2, 7-8, 12-13, 17; Rm. 15:4-9; Mat. 3: 1-12

Ada kelompok yang mengisukan pembaptisan yang benar adalah pembaptisan dalam roh. Menurut mereka, orang yang dibaptis dengan air harus dibaptis kembali dengan baptisan dalam roh. Dalam Injil hari ini, Yohanes Pembaptis mengatakan bahwa ia membaptis dengan air sebagai tanda pertobatan. Tetapi Dia yang akan datang, akan membaptis dengan Roh Kudus dan Api. Itulah yang diwartakan oleh Yohanes Pembaptis.

Pembaptisan Yohanes dengan air merupakan gerakan tobat dan usaha manusia untuk menyucikan diri dari dosa. Baptisan ini menyiapkan umat bagi baptisan penghakiman yang memurnikan dengan cara menghanguskan yang jahat yang melekat pada manusia. Dengan hembusan roh dan api suci Dia yang akan datang akan melepaskan manusia dari yang jahat. Dia akan menenggelamkan manusia dalam baptisan dengan api, bukan untuk memusnahkan melainkan untuk memurnikan dan membuat manusia beriman semakin berkilau seperti emas yang dimurnikan dalam api. Yesus bersabda: “Aku datang membawa api ke dalam dunia” (Luk. 12: 49).

Dengan api, Yesus menciptakan atau melahirkan kembali manusia kepada kesucian atau kemurnian asali yakni persekutuan dengan Allah. Dalam baptisan api manusia ditenggelamkan dalam lautan api kasih Allah. Kasih Allah bagaikan api akan menyucikan, menyatukan dan menjadikan manusia anak-anak dan sahabat Allah. Baik air maupun api adalah lambang Roh Kudus sendiri yang berkuasa membaharui hidup manusia lama yang dikuasai hawa nafsu yang membinasakan menjadi manusia baru yang ambil bagian dalam kodrat ilahi dan menjadi ahli waris atau putera-puteri Allah, yang dapat berseru ‘ya Bapa!’.

Kebenaran baptisan ini tidak dijamin oleh bahannya saja: air, api, atau roh tetapi tampak dari buahnya. Karena itu hasilkanlah buah-buah roh (Gal. 5:16-26), agar baptisan kita bukan ungkapan formalisme palsu melainkan ungkapan kebenaran yang menyatukan kita dengan Tuhan dan sesama. Dari buahnya kita tahu baptisan kita itu benar atau tidak. Hidup kitalah yang akan menunjuk kebenarannya. Amin!

(Pst. Julius Salettia, Pr)

“Hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan” (Mat. 3: 8).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, semoga masa tobat ini membaharui hidup kami, agar kami melihat keselamatan-Mu. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini