“Upah Anak-anak Allah”: Renungan, Sabtu 2 November 2019

0
2456

Pengenangan Arwah Semua Orang Beriman

2 Mak. 12:43-46; Mzm. 130:1-2,3-4,5-6a,6-7,8; 1Kor.15:12-34; Yoh 6:37-40

Istilah kematian seringkali dipahami sebagai akhir kehidupan manusia, keadaan dimana keterpisahan setiap manusia dari kenyataan hidup yang sedang dialami. Itulah mengapa ketika diperhadapkan dengan kematian setiap orang akan merasa galau, sedih, putus asa. Maklumlah secara manusiawi kehidupan ini menyimpan banyak kenangan bersama mereka yang dicintai, prestasi bahkan harta menjadi daya tarik dalam hidup manusia. Penyebab inti dari ketakutan manusia akan akhir hidup adalah dia membayangkan akan kehilangan segala-galanya yang pernah dimiliki.

Pada hari ini Gereja Katolik memperingati arwah semua orang beriman. Sebagai sebuah persekutuan yang didasarkan oleh kebangkitan Kristus, Gereja mengajarkan bahwa kehidupan manusia adalah tentang dunia ini. Namun sebagai anak Allah, manusia memiliki sesuatu yang lebih berharga daripada apa yang telah dia peroleh selama kehidupannya ini yaitu hidup yang kekal bersama Kristus. Ketiga bacaan pada hari ini begitu kuat menegaskan ajaran Kristen akan kebangkitan pada akhir zaman. Kitab Makabe mengisahkan kepercayaan Yudas Makabe akan kerahiman Allah yang memberikan hidup kekal bagi mereka yang telah meninggal. Korban penebus dosa dalam kisah kitab Makabe menandakan kepedulian kepada mereka yang telah meninggal sebagai anak-anak Allah. Gereja sebagai persekutuan melanjutkannnya dengan mendoakan mereka yang telah beristirahat.

Konsekuensi hidup sebagai seorang Kristen adalah keselamatan. Alasan mendasar diberikan oleh rasul Paulus dalam surat kepada jemaat di Korintus, yaitu kepercayaan Kristiani akan kebangkitan mendapatkan bukti fisik dalam kebangkitan Yesus Kristus setelah disalibkan dan wafat. Itulah mengapa rasul Paulus menegaskan bagi seorang yang tidak beriman tidak akan pernah mengerti dan masuk dalam pikirannya bagaimana sesuatu yang telah tidak ada dapat ada kembali dan kekal, sebab dia tidak mengenal Allah. Kepercayaan akan Kristus sebagai Allah yang mengalahkan maut, menjadi dasar bahwa orang Kristiani menatap hidup bukan sebagai angin yang berlalu.

Sebab apabila demikian, maka ada bagusnya perkataan Paulus apabila Kristus tidak dibangkitkan maka tujuan hidup adalah kematian, oleh sebab itu pantaslah setiap orang cenderung mencari kebahagiaan dan kepuasan di dalam kehidupannya. Akan tetapi jauh sebelum itu Kristus Tuhan dalam Injil Yohanes berkata bahwa kehendak Bapa adalah setiap anak-anak-Nya tidak hilang setelah kehidupan yang fana, melainkan menerima hidup yang kekal.

(Fr. Joctaf Geres)

“Supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya kubangkitkan pada akhir zaman” (Yoh. 6:40).

Marilah berdoa:                                                                                             

Allah sumber hidup, tolonglah anak-anakMu tetap berjuang bagi kehidupan kekal semua orang. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini