“Pengharapan Setiap Saat”: Renungan, Kamis 28 November 2019

0
2272

Hari biasa (H)

Dan. 6:12-28; MT Dan. 3:68,69,70,71,72,73,74; Luk. 21:20-28.

Saat ini, kita dapat merasakan nilai-nilai iman dan kebaikan yang selalu dibangun dari waktu ke waktu. Segalanya bisa berlalu dengan cara yang mengerikan, tetapi orang yang hidup dalam iman dan kebaikan akan melihat Anak Manusia bertahta di atas awan dan merasakan penebusan-Nya. Oleh karena itu, jangan melihat buah-buah iman sebatas pada saat permohonan kita dikabulkan  dan hidup kita mendapat perlindungan, tetapi juga pada saat seluruh diri kita tak berdaya.

Hati kita sering cemas dan gentar tatkala mendengar serta menyaksikan berbagai peristiwa alam yang memilukan. Rasa takut dan cemas demikian menghantar kita pada pertanyaan, apakah peristiwa tragis dan memilukan semacam itu menjadi tanda berakhirnya dunia? Segala kecemasan itu adalah sesuatu yang manusiawi. Namun, pengharapan iman meneguhkan bahwa Tuhan tetap menata hidup dan bumi dengan kebaikan-Nya.

Yesus mengetengahkan pembaruan hidup secara total dalam cerita kosmis. Sikap hidup dan perbuatan benar akan selalu berhadapan dengan kecurangan dan kelicikan. Kejahatan akan menghancurkan kehidupan manusia dan dunia dengan cara-cara yang menyedihkan. Hilangnya kasih dan kepedulian menjadi tanda perpecahan dan lahirnya kebencian. Oleh sebab itu, dituntut sikap iman dan keterbukaan akan pendampingan Allah dalam menata hidup. Dengan demikian, kita pun sanggup memberikan kesaksian tentang cinta Allah dalam berbagai situasi.

Hal mana seperti yang digambarkan dalam bacaan pertama dimana Daniel tetap berpaut dan percaya kepada Allah walaupun mengalami berbagai tantangan dan cobaan dalam hidupnya. Dunia baru akan tercipta bila setiap saat kita mau menata keharmonisan hidup bersama dan tidak pernah menyerah melainkan harus senantiasa berseru pujilah dan luhurkanlah Tuhan selama-lamanya. Kedatangan Yesus yang kedua kalinya akan menyempurnakan hidup kita dan tatanan dunia ini. Kapan saat itu tiba, tak seorang pun tahu. Tugas kita adalah menata dan memaknainya mulai dari sekarang dan berharaplah bahwa pada saatnya kita akan dimuliakan.

(Fr. Timoty Tappi)

“Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya” (Luk. 21:27).

Marilah berdoa:

Tuhan yang Mahakasih, kami bersyukur atas kehidupan yang boleh kami jalani. Kami mohon semoga kami memberi perhatian baik pada pemenuhan kebutuhan jasmani, maupun pada kebutuhan rohani yang bernilai baik saat kami hidup maupun saat kami mati. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini