“Pelayan Sejati”: Renungan, Selasa 12 November 2019

0
2267

Pw S. Yosafat, Usk Mrt (M)

Keb. 2:23 – 3:9; Mzm. 34:2-3,16-17,18-19; Luk. 17:7-10

Setiap orang memiliki panggilan dan perutusannya masing-masing. Misalnya, ada yang dipanggil dan diutus menjadi imam atau dalam suatu profesi tertentu. Meskipun memiliki panggilan dan perutusan dalam kapasitas yang berbeda, namun pada dasarnya setiap orang memiliki tugas yang secara rohani sama yakni ambil bagian dalam karya penyelamatan Allah. Menjadi tantangan bagi setiap orang tentang bagaimana sikap yang diambil dalam menjalani panggilan dan perutusan masing-masing.

Bacaan Injil hari ini memberikan gambaran tentang sikap yang mesti diambil oleh setiap pengikut Kristus dalam menjalani panggilan dan perutusannya. Lewat kisah tentang tuan dan hamba, Yesus hendak menunjukkan bahwa setiap pengikut-Nya mesti bertanggung jawab dan memiliki sikap rendah hati dalam menjalankan panggilan dan perutusannya. Bertanggung jawab menunjuk pada kesiapsediaan untuk melayani orang lain secara total dalam panggilan dan perutusan yang diemban. Sementara kerendahan hati adalah ajakan supaya tidak menyombongkan diri dan berpuas diri atas tugas yang berhasil dilaksanakan. Dengan sikap demikian, pengikut Kristus menjadi abdi yang tidak memperhitungkan ukuran dan waktu yang menjadikannya sebagai pelayan Kristus yang sejati.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita senantiasa berhadapan dengan kesibukan dan tugas yang memiliki tantangannya masing-masing. Berhadapan dengan situasi demikian kita diajak menyelesaikannya dengan sungguh-sungguh dan bertanggung jawab. Dalam menjalankan panggilan dan perutusan, kita mesti mengutamakan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadi. Di samping itu, kita pun mesti menghadirkan Tuhan dalam menjalankan tugas. Perlu disadari bahwa kita turut ambil bagian dalam karya pelayanan Kristus, sehingga apa yang kita lakukan mesti sesuai dengan kehendak dari Allah sendiri. Dengan demikian kita menjadi pelayan sejati yang bertanggung jawab dan memiliki sikap yang rendah hati dalam melaksanakan panggilan dan perutusannya.

Santo Yosafat yang hari ini kita peringati telah menjadi teladan iman bagi kita. Ia menjadi teladan sebagai hamba yang sejati. Sebagai uskup Polotsk, ia senantiasa melayani umatnya dengan rendah hati dan bertanggung jawab. Atas sikapnya yang demikian, ia pun berhak memperoleh mahkota surgawi bersama para kudus di surga. Semoga kita pun senantiasa mampu menjalankan panggilan dan perutusan kita masing-masing dengan rendah hati dan bertanggung jawab.

(Fr. Jefry Fenanlampir)

“Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang hendak kami lakukan” (Luk. 17:10)

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, jadikanlah hidup dan karyaku sebagai kebahagiaan bagi semua orang. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini