Hari Biasa (H)
Rm. 15:14-21; Mzm. 98:1,2-3ab,3cd-4; Luk. 16;1-8
Seringkali dalam kehidupan ini, orang dihadapkan dengan situasi yang membuat mereka menjadi krisis atau galau. Pada saat yang sama pula, mereka dituntut untuk mengambil keputusan: apakah mereka akan menghadapi dan menyelesaikan situasi itu, atau melarikan diri dan menyerah dengan situasi itu?
Yesus dalam bacaan hari ini sepertinya memberikan pujian kepada bendahara yang tidak jujur itu. Pujian ini bukanlah karena ketidakjujuran dari bendahara itu, melainkan karena ia adalah seorang yang tahu mencari jalan keluar untuk menghadapi kehidupan yang sulit dan krisis yang dialami olehnya.
“Apakah yang harus aku perbuat? Tuanku memecat aku dari jabatanku sebagai bendahara. Mencangkul aku tidak dapat, mengemis aku malu. Aku tahu apa yang akan aku perbuat, supaya apabila aku dipecat dari jabatanku sebagai bendahara, ada orang yang akan menampung aku di rumah mereka. Lalu ia memanggil seorang demi seorang yang berhutang kepada tuannya. …”.
Setiap orang dalam kehidupan di dunia ini akan selalu berhadapan dengan situasi yang dipenuhi dengan krisis, kesulitan, yang menuntut mereka untuk berpikir cepat dalam menghadapi situasi demikian. Situasi krisis bisa saja muncul dalam keluarga, pekerjaan, masyarakat, dan lainnya. Sikap tidak mudah menyerah atau tidak putus asa adalah kunci dalam menghadapi situasi demikian. Kebijaksanaan inilah yang hendaknya ada dalam diri setiap orang.
Namun kebijaksanaan ini hendaknya bertumpuh pada kepercayaan akan Kristus. Kristus adalah kekuatan bagi orang beriman, ketika mereka berada dalam cobaan ataupun krisis. Sikap pantang menyerah yang dibangun atas kepercayaan akan Kristus membuat orang untuk yakin dengan pilihannya. Keyakinan ini muncul, karena mereka dikuatkan oleh Kristus.
Untuk itu Rasul Paulus berkata: “… Aku boleh menjadi pelayan Kristus Yesus bagi bangsa-bangsa bukan Yahudi dalam pelayanan pemberitaaan Injil Allah, … . Jadi dalam Kristus aku boleh bermegah tentang pelayananku bagi Allah. Sebab aku tidak akan berani berkata-kata tentang sesuatu yang lain, kecuali tentang apa yang telah dikerjakan Kristus olehku,… .”
Untuk itu, setiap orang beriman hendaknya tidak gentar dan tidak takut, jika berhadapan dengan pelbagai krisis atau cobaan yang berat. Kebijaksanaan hendaknya ada dalam diri setiap orang, ketika mereka dihadapkan pada situasi demikian. Pun begitu kebijaksanaan itu hendaknya didasarkan pada keyakinan akan kehadiran nyata dari Kristus, sebagai sumber kekuatan setiap orang.
(Fr. Christiano Mandagi)
“Tuhan telah memperkenalkan keselamatan yang dari pada-Nya, oleh lengan-Nya yang kudus” (Mzm. 98:2).
Marilah berdoa:
Tuhan, kiranya Engkau memampukanku untuk menemukan jalan keluar di tengah krisis kehidupanku. Amin.











