Pesta Santo Andreas, Rasul (M)
Rm. 10:9-18; Mzm. 19:2-3,4-5; Mat. 4:18-22
Meninggalkan sesuatu merupakan hal yang sangat sulit untuk dilakukan oleh manusia pada umumnya. Apalagi sesuatu itu sudah sangat melekat pada dirinya dan tidak bisa terpisah dari dirinya. Hal itu seperti keluarga, pekerjaan atau barang berharga. Orang rela melakukan apa saja untuk mempertahankan yang menurut dia amat berharga bagi dirinya dan masa depannya, apapun resikonya.
Dalam bacaan Injil hari ini diceritakan tentang Yesus yang memanggil para murid-Nya yang pertama, yaitu Simon Petrus, Andreas, Yohanes dan Yakobus. Para murid Yesus ini berasal dari latar belakang yang sama, yaitu nelayan. Mereka sangat mencintai pekerjaan mereka sebagai nelayan, karena selain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari tetapi juga untuk membantu orang tua mereka.
Tiba-tiba Yesus melihat dan menghampiri mereka dan langsung berkata kepada mereka, “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan panjala manusia”. Secara manusiawi tentunya mereka bingung karena perkataan Yesus itu. Pekerjaan yang sudah mereka tekuni sejak lama, tiba-tiba harus ditinggalkan untuk mengikuti Yesus. Memang berat rasanya, karena tidak hanya meninggalkan pekerjaannya saja, tetapi juga harus meninggalkan keluarga. Tetapi, di balik semua itu Yesus menjanjikan suatu pekerjaan yang mulia lagi yaitu menjadi penjala manusia.
Hari ini juga Gereja merayakan pesta Santo Andreas, Rasul, yang adalah salah satu rasul yang pertama. Andreas dan saudaranya rela meninggalkan pekerjaan mereka yang sudah menjadi bagian dalam hidup mereka untuk menjadi murid Yesus. Tetapi, santo Andreas menyadari bahwa ia akan mendapat suatu pekerjaan yang amat mulia, yaitu menjadi penjala manusia.
Menjadi penjala manusia memang tidak mudah, tetapi dengan penuh ketekunan dan kesetiaan, Andreas berusaha menekuni pekerjaan barunya. Hingga ia sendiri merasakan hasil dari pekerjaannya, yaitu banyak manusia yang berhasil ia jalah untuk menjadi pengikut Kristus, walaupun ia harus mati sekalipun.
Melalui bacaan hari ini dan pesta santo Andreas, kita diajarkan untuk tidak takut meninggalkan sesuatu yang sudah melekat dalam diri kita, karena pasti ada sesuatu yang lebih indah disediakan oleh Tuhan untuk kita. Memang bukan sesuatu yang mudah dan tentu punya tantangan baru.
Meski demikian, marilah kita bersikap seperti santo Andreas yang dengan rela meninggalkan pekerjaan manusia untuk melaksanakan pekerjaan Allah, walaupun nyawanya menjadi taruhannya, tapi ia tetap bertahan karena ia tahu Tuhan tidak akan meninggalkannya.
(Fr. Bosco Pontoh)
“Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan panjala manusia”(Mat. 4:19).
Marilah berdoa:
Ya Tuhan, bantulah kami untuk mampu melaksanakan pekerjaan-Mu. Amin.











