“Jagoan Kristus” Renungan, Rabu 27 November 2019

0
2722

Hari Biasa (H)

Dan. 5:1-6,13-14,16-17,23-28; MT Dan. 3:62,63,64,65,66,67; Luk. 21:12-19

Suatu kebanggaan tersendiri bagi manusia yang hidup di zaman sekarang ini, karena segala sesuatu mudah didapatkan. Kita semakin nyaman dengan situasi dan kondisi yang ada sekarang. Namun di balik dari kemudahan dan kenyamanan itu, orang sering menutup diri bagi sesamanya. Tidak ada sebuah upaya untuk keluar dari zona nyaman yang dialami. Lalu bagaimanakah sikap kita sebagai orang beriman?

Injil hari ini menampilkan Yesus yang memberikan suatu gambaran tentang apa yang akan dialami oleh para murid ketika mewartakan Kristus itu sendiri. Suatu keadaan yang menggelisahkan, menakutkan dan bahkan mencekam. Dilihat dari sisi manusiawi tentu ini bukan sebuah kabar yang menyenangkan. Tapi inilah konsekuensi dari seorang murid yang patuh pada gurunya. Kesetiaan selalu menuntut pengurbanan diri. Setia dan komitmen pada panggilan hidup adalah dasar dari kekuatan setiap kelemahan manusiawi. Dan di akhir kalimat Yesus berkata: “Tetapi tidak sehelai pun dari rambut kepalamu akan hilang, kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu.”

Hal ini mau menunjukkan otoritas dari Sang Juruselamat, bahwa Yesus Kristus mengatasi segala-galanya. Selain itu juga, nampak jelas suatu totalitas kemuridan. Berani bertanggung jawab. Kesetiaan, ketaatan dan kerendahan hati haruslah menjadi benih yang subur di dalam diri, sehingga manusia tidak lupa diri, sebagaimana dikisahkan dalam bacaan pertama. Raja Belsyarzar salah menggunakan kekuasaannya sebagai raja. Ia menggambil perkakas di dalam Bait Suci, digunakan untuk perlengkapan pesta. Dan karena itu, Allah mencabut hak-hak raja Belsyarzar sebagai raja dan kekuasaannya. Peristiwa ini menunjukkan bahwa kekuasaan Allah tiada batasnya.

Dari bacaan pertama, kita dapat belajar bahwa kadang kualitas seseorang tampil tidak sesuai dengan aturan main yang sudah ditentukan Allah, akibatnya ialah mendatangkan malapetaka bagi diri sendiri. Bacaan Injil mengajarkan kepada kita, bahwa kekuarangan dan kelemahan selalu disempurnakan oleh Allah. Bercermin dari kedua bacaan hari ini, maka sangat pentinglah nilai tanggung jawab, taat, setia dan merendahkan diri di hadapan Tuhan. Tanpa meminta, Tuhan setiap hari memberikan berakat yang melipah kepada kita. Hari ini Tuhan bertanya kepada kita masing-masing, beranikah kamu membagi berkat-Ku melalui panggilanmu sebagai orang beriman kepada sesamamu?

 (Fr. Yustinus Mogi Saelong )

“Tetapi tidak sehelai pun dari rambut kepalamu akan hilang, kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu” (Luk. 21:18-19).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, beranikanlah kami untuk mewartakan sabda-Mu. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini