“Audage Nobis Fidem”: Renungan, Senin 11 November 2019

0
2031

Pw S. Martinus dr Tours, Usk (P)

Keb. 1:1-7; Mzm. 139:1-3,4-6,7-8,9-10; Luk. 17:1-6

Kita beruntung tinggal di Indonesia di mana agama, khususnya agama Katolik menjadi salah satu dari enam agama yang diakui negara dan diberi kebebasan untuk menjalaninya. Hal ini tentunya membuat orang memiliki sekiranya dua tanggapan. Pertama, seseorang lalu menjadi penganut agama yang taat yang menjalani agamanya dengan baik; mengemban tugas dan tanggung jawab secara penuh. Kedua, seseorang lalu hidup dengan sikap relativisme karena menganggap agama hanya sebagai kewajiban yang harus dipeluk tanpa harus dihayati atau dimaknai secara mendalam.

Saudara terkasih, bacaan hari ini memperlihatkan kepada kita bagaimana seharusnya kita beragama. Bacaan pertama menyampaikan bahwa betapa pentingnya melibatkan Roh Tuhan; Roh pendidik yang menuntun kita pada kebenaran dan bukan kesesatan. Hal ini ditegaskan kembali dalam Injil. Yesus menasihati para murid-Nya untuk menghindari penyesatan dan mempertebal iman mereka. Para rasul pun dengan semangat meminta kepada Tuhan: “Tambahkanlah iman kami” (Audage Nobis Fidem). Suatu sikap penuh semangat dalam mengimani Kristus sebagai satu-satunya jalan keselamatan. Memohon kepada Tuhan untuk menambahkan iman kita, juga perlu sikap lepas bebas dan tidak terikat kepada sesuatu, yang menghalangi kita untuk membuka hati kepada Allah.

Saudara terkasih, realitas hidup kita yang tinggal dalam kemajemukan kiranya membuat kita untuk semakin mencari, memiliki, menambahkan, dan mempertahankan iman kita dengan jelas. Sebab,  kita hidup di zaman kediktaktoran relativisme yang tidak mengenal apa pun selain sikap ego dan kepentingan diri sendiri. Bukalah hati kita dari sekarang, biarkan Roh kebenaran menuntun kita. Seperti St. Martinus Tours, dari seorang yang tidak mengenal Yesus, lalu menjadi pengikut-Nya yang setia. Iman yang dewasa bukanlah iman yang mengikuti tren baru, melainkan iman yang berakar secara mendalam pada relasi intim dengan Roh-Nya untuk membedakan yang benar dari yang salah; kebohongan dan kebenaran. Sebab kita tidak membutuhkan agama untuk memberitahu apa yang benar ketika kita melakukan yang benar, tetapi Agama yang memberitahukan yang benar ketika kita melakukan kesalahan.

(Fr. Laurenzo Geraldo Lolong)

“Lalu kata rasul-rasul itu kepada Tuhan: ‘Tambahkanlah iman kami!” (Luk. 17:5)

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, tambahkanlah iman kami. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini