“Kemenangan karena Iman”: Renungan, Minggu 27 Oktober 2019

0
3511

Hari Minggu Biasa XXX (H)

Sir 35:12-14,16-18; Mzm 34:2-3,17-18,19,23; 2Tim 4:6-8,16-18; Luk 18:9-14

Sebagai manusia, perasaan bangga ketika memperoleh pujian dan hormat adalah suatu hal yang wajar. Namun apakah kebanggaan terhadap kesuksesan hidup, pujian atas diri sendiri, akan membawa kita pada kebahagiaan yang sebenarnya? Saudaraku, bacaan-bacaan hari ini hendak menjelaskan hal tersebut kepada kita.

Bacaan pertama berbicara tentang doa. Dikatakan bahwa doa seorang yang terjepit, jeritan yatim piatu, dan janda akan senantiasa didengarkan oleh Tuhan. Akan tetapi haruskah menjadi yatim atau menjanda terlebih dahulu baru doa kita akan didengarkan oleh Tuhan? Tentu tidak sepenuhnya demikian.

Tuhan senantiasa akan mendengarkan siapa saja. Sesungguhnya tidak ada bedanya antara orang yang mengalami kesulitan dan yang bahagia. Hal yang terpenting yang mau dikatakan disini yakni seberapa besar iman dan keyakinan kita. Orang kecil, miskin, dan kesulitan adalah pralambang dari orang-orang yang memiliki satu pengharapan dan keyakinannya terarah hanya untuk Tuhan saja.

Tentang mempertahankan pengharapan dan keyakinan iman yang begitu besar dapat kita pelajari dalam bacaan kedua. Kepada Timotius, Paulus mengungkapkan bahwa dalam hidup, kita mengalami pertandingan antara keinginan daging dan roh. Menghadapi itu, imanlah yang perlu dimenangkan. Dengan begitu, roh tetap hidup.

Ia telah mengakhiri pertandingannya karena bertahan memelihara iman(2Tim. 4:7). Rasul Paulus mau menjelaskan bagaimana ia menemukan kemenangan yang sejati karena ia tetap bertahan dan berharap hanya kepada Tuhan saja. Ia bahkan tidak menyombongkan diri atas kemenangannya.

Sikap ini tentu berbeda dengan orang Farisi. Dalam Injil, mereka malah meninggikan dan menyombongkan hidup mereka di hadapan Tuhan. Mereka menganggap diri sebagai yang terbaik, hanya karena setia melakukan kewajiban hidup rohani mereka. Mereka tidak sadar bahwa kewajiban yang mereka lakukan bukan sebenarnya untuk Tuhan. Melainkan bagi diri mereka sendiri.

Saudara, iman seperti orang Farisi tidak menghantar hidup kita kepada kemenangan ilahi. Kemenangan yang ilahi akan kita peroleh jika kita memiliki kesadaran akan kuasa Tuhan dalam hidup kita. Bangga akan kesuksesan hidup kita adalah manusiawi dan tidaklah salah. Hal ini akan menjadi keliru, jika kita tidak melihat itu sebagai bentuk campur tangan Tuhan. Tanpa pemahaman itu, bukan iman yang memenangkan kita melainkan keinginan daging semata yang menyebabkan kita puas dan merasa menang.

(Fr. Angelo Cheryl Tanod)

“Aku telah mengakhiri pertandingan dengan baik, aku telah mencapai garis akhir, dan aku telah memelihara iman” (2Tim. 4:7)

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, buatlah kami menyadari penyertaan-Mu dalam hidup kami. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini