Pw. SP Maria, Ratu Rosario (P)
Yun. 1:1-17; 2:10; Yun. 2:2,3,4,5,8; Luk. 10:25-37
Allah senantiasa mencintai dan mengasihi kita sebagai umat-Nya, meskipun tak jarang kita menyimpang dari apa yang dikehendaki-Nya.
Bacaan pertama melukiskan peristiwa Nabi Yunus yang mencoba untuk tidak menaati perintah Allah. Ketidaktaatan ini kemudian mendatangkan akibat baginya dan orang lain. Allah menurunkan angin ribut dan terjadilah badai besar sehingga kapal yang ditumpanginnya hampir terpukul hancur.
Setelah itu, Nabi Yunus ditelan seekor ikan besar dan berada di situ selama tiga hari. Peristiwa inilah yang membuat Nabi Yunus menyadari bahwa Allah mencintai dan mengasihinya, meskipun ia tidak mengikuti kehendak-Nya.
Injil menceritakan tentang dialog antara ahli Taurat dan Yesus mengenai apa yang harus diperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal. Jawaban atas dialog itu adalah kasihilah Tuhan Allah dengan segenap jiwa dan raga, dan kasihilah sesama manusia seperti diri sendiri, seperti yang diumpamakan dalam cerita tentang orang Samaria yang murah hati.
Dalam realitas kehidupan setiap hari, terkadang kita dihadapkan dengan pelbagai peristiwa yang dialami oleh Nabi Yunus dan perumpamaan Yesus tentang seorang Samaria. Kita sering kali tanpa sadar menolak apa yang dikatakan Allah. Kita memilih untuk lebih mengikuti diri sendiri daripada mengikuti Allah. Selain itu, terkadang kita tidak menghormati dan menghargai sesama.
Hari ini Gereja Katolik secara universal memperingati Santa Perawan Maria Ratu Rosario. Peringatan wajib yang dilakukan oleh Gereja Katolik tidak terlepas dari suatu peristiwa ajaib dan mulia yang terjadi dalam Perang Salib. Ketika mengalami peristiwa tersebebut, Paus Pius V menyuarakan kepada seluruh Gereja untuk meminta pertolongan Allah melalui Doa Rosario dan akhirnya terkabulkan. Kepercayaan terhadap Doa Rosario memepersatukan kita dengan Bunda Maria dan Putera-Nya.
Bacaan-bacaan dan peringatan Santa Perawan Maria Ratu Rosario hari ini menunjukkan kepada kita betapa cinta kasih Allah kepada manusia tiada batasnya. Allah senantiasa mengasihi, meskipun kita menyimpang daripada-Nya. Maka sebagai manusia, apa yang perlu kita lakukan untuk meneruskan dan mewujudkan cinta kasih Allah kepada sesama?
(Fr. Mario Rumsory)
“Kasihilah Tuhan Allah dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuataanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Luk. 10:27)
Marilah berdoa:
Ya Tuhan, ajarkanlah kami untuk menjadi bijaksana dalam mewartakan dan memujudkan cinta kasih-Mu kepada sesama. Amin











