“Sudah Bahagia?”: Renungan, Rabu 11 September 2019

0
3014

Hari biasa (H)

Kol. 3:1-11; Mzm. 145:2-3,10-11,12-13ab; Luk. 6:20-26

Setiap manusia memiliki tujuan untuk hidup bahagia. Hidup bahagia bukan berarti hidup hanya sesaat tetapi hidup yang terus ada dan tidak bisa hilang. Inilah kebahagiaan sejati yang dicari oleh setiap orang. Namun dalam kehidupan sehari-hari, manusia cenderung mencari kebahagiaan semata yakni duniawi sedangkan kebahagiaan sejati dihilangkan. Padahal kebahagiaan sejati yakni hidup bersama dengan Allah. Mencari kebahagiaan sejati ini, sering dipandang oleh manusia sebagai suatu pencapaian yang susah. Sehingga manusia lebih memilih untuk mencari kebahagiaan duniawi.  

Injil hari ini mengisahkan tentang Yesus yang menyampaikan sabda bahagia dan celaka. Tentunya penyampaian sabda ini mempunyai tujuan supaya manusia melepaskan kebahagiaan duniawi dan mencari kebahagiaan sejati. Artinya, kemiskinan yang dikatakan oleh Yesus dikaitkan dengan duniawi.

Namun orang sering kali salah mengartikan kemiskinan di hadapan Allah. Miskin di hadapan Allah adalah sikap rendah diri dan hanya mengandalkan Tuhan sebagai kekuatan dalam mencari kebahagiaan sejati. Rasul Paulus menyatakan bahwa dunia itu bersifat pencabulan, kenajisan, hawa nafsu, jahat dan keserakahan. Maka Paulus sendiri menyatakan bahwa, carilah perkara yang di atas dan jauhkanlah hal-hal duniawi. Sebab hal-hal duniawi menjadi halangan bagi manusia untuk mencari kebahagiaan bersama Allah.

Rasul Paulus melihat bahwa untuk hidup bersama Allah berarti meninggalkan segala kebahagiaan duniawi. Karena itu, Yesus sendiri menyempurnakan pernyataan dari Paulus yakni jangan terhipnotis dengan harta duniawi. Tetapi hadapilah semua itu dengan rendah hati, sebab hanya dengan rendah hati manusia bisa sampai pada kebahagiaan bersama Allah.

Yesus memberikan perintah yakni hidup saling mengasihi. Artinya, Yesus memberikan suatu isyarat agar manusia selalu mengandalkan Tuhan untuk mengalahkan perkara-perkara duniawi, agar manusia dapat menikmati kebahagiaan bersama Allah.

Hidup bahagia berarti mengimbangi kebutuhan duniawi dan kebutuhan jasmani. Inilah suatu sikap yang ditawarkan Yesus sekaligus peringatan agar kita selalu mencari perkara yang di atas. Sebab dengan mencari perkara di atas, maka kita dapat memperoleh kebahagiaan sejati.

Lantas sudah beranikah kita meninggalkan perkara-perkara duniawi? Memang kebahagiaan duniawi dibutuhkan, tetapi kita harus ingat bahwa kebutuhan surgawi lebih penting. Maka, kita jangan sampai menjadi batu sandungan bagi bakti kita kepada Allah sebagai sumber kebahagiaan.

( Joe Titirlolobi)

“Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah” (Luk. 20:20)

Marilah berdoa:

Tuhan, tunjukkanlah kepadaku jalan menuju kebahagiaan sejati dan jauhkanlah dariku perkara-perkara duniawi yang menjadi halangan bagiku untuk memandang kemuliaan-Mu. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini