Hari biasa (H)
Kol. 1:24 – 2:3; Mzm. 62:6-7,9; Luk. 6:6-11
Akhir-akhir ini, masalah hukum menjadi topik yang banyak digumuli oleh masyarakat Indonesia. Banyak perdebatan atau pertentangan yang terjadi senantiasa dibawa sampai ke ranah hukum. Siapa yang benar di mata hukum dialah yang menang, sementara pihak yang salah mesti mendapatkan hukuman. Petanyaannya ialah apakah vonis hukuman yang dijatuhkan kepada pihak yang salah itu akan membawa keselamatan baginya? Bisa jadi hukuman malah membuat orang yang bersalah tersebut semakin jauh dari keselamatan. Padahal hukum pertama-tama dimaksudkan untuk menjamin keselamatan manusia. Untuk itu, ketika menghadapi perdebatan atau pertentangan setiap orang mesti mempertimbangkan hal demikian.
Bacaan Injil hari ini mengisahkan tentang Yesus yang menyembuhkan seorang yang mati tangan kanannya pada hari Sabat. Tindakan Yesus itu ditentang oleh Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi karena bagi mereka, Hukum Taurat melarang orang bekerja pada hari Sabat. Meskipun demikian, Yesus tetap berupaya menyembuhkan orang tersebut. Dengan tindakan yang dibuat-Nya, bukan berarti bahwa Yesus tidak memahami Hukum Taurat atau berupaya menentang Hukum Taurat. Namun dengan tindakan-Nya yang demikian, Yesus berupaya meluruskan pandangan mereka tentang hukum.
Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi sangat mengagungan hukum. Sehingga bagi mereka setiap tindakan manusia harus senantiasa sesuai dengan hukum. Hukum adalah yang utama dan karena itu hukum mesti dilindungi. Sementara itu, Yesus berusaha mengingatkan mereka bahwa keselamatan manusialah yang lebih penting daripada hukum. Hukum itu sendiri mesti menjamin keselamatan manusia. Dengan demikian, bukan hukum yang mesti dilindungi oleh manusia, melainkan hukumlah yang mesti melindungi manusia. Untuk itu, Yesus tetap menyembuhkan orang tersebut pada hari Sabat demi keselamatannya.
Dalam kehidupan sehari-hari, tak jarang kita menggunakan hukum sebagai kesempatan untuk memojokkan orang lain bahkan menuding bahwa orang tersebut adalah jahat dan kita merasa diri kita yang benar sebab telah taat dengan aturan yang ada. Injil hari ini mengajak agar kita tidak kaku dengan hukum sebab hukum dibuat agar manusia mengalami kesejahteraan. Rasul Paulus kepada jemaat di Kolose menekankan tentang pentingnya kasih dalam pelayanan. Kita harus melandaskan hukum di atas dasar cinta kasih sehingga kita akan senantiasa merasakan sukacita.
(Fr. Frans Labia)
“Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?” (Luk. 6:9)
Marilah Berdoa:
Ya Allah yang Mahakasih, jadikanlah aku sebagai orang yang senantiasa berbelas kasih. Amin











