PW. St. Gregorius Agung, Paus dan Pujangga Gereja (P)
1 Tes. 5:1-6.9-11; Mzm 27: 1.4.13-14; Luk. 4:31-37
Dalam setiap kesempatan entah suka maupun duka, selalu saja ada banyak waktu yang digunakan orang untuk mempersiapkan peristiwa-peristiwa tersebut. Intensitas persiapan yang dibuat bergantung pada situasi yang sedang terjadi.
Pengalaman suka dan duka mewarnai perjalanan rohani setiap kaum beriman. Perjalanan ini selalu mengarahkan pandangan manusia pada suatu peristiwa penting, yakni kedatangan Tuhan. Kapan waktu itu tiba tidak ada yang mengetahuinya. Inilah yang masih menjadi misteri. Kendati demikian, iman kita menjadi pendasaran penting dalam menantikan kedatangan Tuhan. Yakni pengharapan dan persiapan.
Paulus mengingatkan jemaat di Tesalonika tentang zaman dan masa kedatangan Tuhan. Hari Tuhan datang seperti pencuri pada malam hari. Penegasan ini mau mengingatkan mereka bahwa setiap orang yang terbuai dengan kemapanan dan kenyamanan diri, suatu ketika tidak bisa membela diri dari setiap bahaya dan ancaman yang datang tiba-tiba.
Namun, setiap orang yang mawas diri dan selalu berjaga-jaga, tidak akan mengalami penderitaan sekalipun ancaman dan bahaya maut mengincar, sebab dirinya telah mempersiapkan segala sesuatu. Penggambaran ini ditunjukkan Paulus untuk menegaskan bahwa Kristus telah mati untuk kita agar kita mengalami keselamatan dan hidup bahagia bersama-Nya. Ia telah mengetahui saat mana kegelapan meliputi hidup manusia. Maka sebelum kegelapan itu tiba, Ia sendiri telah memberi perlindungan dengan terang-Nya.
Bentuk konkret dari tindakan penyelamatan yang dibuat oleh Yesus adalah menghardik setan yang merasuki seseorang di rumah ibadat di Kapernaum. Kuasa Yesus bahkan diakui si setan: “Engkaulah Yang Kudus dari Allah”. Tindakan Yesus sederhana namun membawa pengaruh yang besar dalam hidup terutama dalam memperoleh keselamatan.
Setiap orang percaya meyakini bahwa hari kedatangan Tuhan masih merupakan misteri, yang tidak dapat diduga. Berbeda halnya dengan peristiwa peringatan kelahiran. Maka, mempersiapkan diri sambil berjaga-jaga adalah suatu iman yang kokoh dan tak tergoyahkan. St. Gregorius telah membuktikannya. Kekayaan dan kuasa yang dimilikinya, tidak menjamin keselamatan dirinya saat hari kedatangan Tuhan. Maka, memutuskan hidup untuk menjadi seorang rahib dan melayani kaum miskin adalah persiapan paripurna dalam menanti kedatangan-Nya.
Kita pun diajak untuk mempersiapkan kedatangan Tuhan dengan hati murni sambil tetap berharap dan berjaga-jaga, sehingga dengan iman yang teguh kita berseru, “Aku percaya akan melihat kebaikan Tuhan di negeri orang hidup”.
(Fr. Yanto Kansil)
“Tuhan adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut?” (Mzm. 27:1a).
Marilah berdoa:
Ya Tuhan, terangilah aku dengan sinar-Mu. Amin











