“Si Bunglon”: Renungan, Sabtu 3 Agustus 2019

0
2959

Hari Biasa (H)

Im. 25:1,8-17; Mzm. 67:2-3,5,7-8; Mat. 14:1-12

Bunglon merupakan jenis hewan yang mampu beradaptasi dengan situasi dan kondisi lingkungannya. Ketika berada di lingkungan yang dominan berwarna hijau, maka kulitnya akan berubah menjadi warna hijau. Hal ini dilakukan untuk bertahan hidup dari bahaya. Selain itu, bunglon melakukan hal tersebut untuk memperoleh makan. Menarik bahwa sikap ini ternyata hadir dalam realitas kehidupan manusia. Semangat ABS (asal bapak senang), berwajah dua dan “menjilat” menjadi realitas saat ini yang banyak ditemukan dalam kehidupan bersama. Semangat ini menjadi suatu sarana untuk memperoleh sesuatu dalam kehdiupan pribadinya.

Saudara terkasih, Injil hari ini mau menunjukkan bahwa perilaku bunglon adalah sebuah tindakan yang keliru. Hal ini nampak jelas dalam pribadi raja Herodes, yang memerintahkan pengawalnya untuk membunuh Yohanes Pembaptis. Tindakan Herodes merupakan pencitraan belaka untuk menjaga kehormatan dan wibawa. Ia berprilaku seperti “bunglon” untuk mencari rasa aman dan menjaga martabatnya sebagai seorang raja. Kebenaran di dalam hatinya dibutakan oleh tujuannya yang keliru. Keputusan yang diambil tidak bertolak dari suara hati melainkan dari keegoisannya. Akibatnya orang yang benar dan tidak bersalah dikorbankan.

Tindakan tersebut bertentangan dengan perintah dan kehendak Tuhan. Kepada Musa, Allah berfirman: “Janganlah kamu merugikan satu sama lain, tetapi engkau harus takut akan Allahmu, sebab Akulah Tuhan” (Im. 25:17). Allah menghendaki agar manusia hidup berdampingan tanpa merugikan satu sama lain. Semangat cinta kasih dan kebenaran adalah dua sikap yang harus hadir dalam pribadi manusia.

Saudara terkasih, jelaslah bahwa sikap seperti bunglon merupakan hal yang keliru. Allah tidak menghendaki manusia berwajah dua. Sisi yang satu menunjukkan belaskasihan dan sisi yang lain menunjukkan kemunafikan. Pada akhirnya kita harus menengok pribadi Yohanes Pembaptis, yang dengan keutamaan-keutamaan hidupnya membela dan mempertahankan kebenaran. Namun hal tersebut tidaklah cukup. Kita sudah semestinya mendekatkan diri kepada sumber kebenaran itu sendiri, yakni Kristus. Tindakan dan perkataan Yesus merupakan petunjuk dan arah yang benar untuk menghindarkan diri dari sikap “bunglon”.

(Fr. Christian Theofilus Pontoh)

Janganlah kamu merugikan satu sama lain, tetapi engkau harus takut akan Allahmu, sebab Akulah Tuhan” (Im. 25:17).

Marilah berdoa:

Ya Allah, bantulah kami menjadi pribadi yang hidup dalam semangat cintakasih dan kebenaran. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini