“Salah Menilai”: Renungan, Jumat 2 Agustus 2019

0
1887

Hari biasa (H)

Im. 23:1,4-11,15-16,27,34b-37; Mzm. 81:3-4,5-6ab,10-11ab; Mat. 13:54-58.

‘Jangan kau salah menilaiku’ adalah suatu judul lagu dari Tagor Pangaribuan yang mengisahkan keraguan cinta seorang wanita terhadap pasangannya. Keraguan ini membuat wanita tidak mampu melihat kedalaman dan ketulusan cinta dari pasangannya. Ia hanya melihat covernya, tanpa melihat lagi isinya. Padahal, pepatah lama mengatakan, “Don’t judge a book by its cover”. Suatu ajakan untuk tidak menilai sesuatu dari tampilan luarnya saja.

Injil hari ini mengisahkan tentang Yesus yang kembali ke kampung asal-Nya. Di sana, Ia mengajar di rumah ibadat. Banyak orang menjadi takjub dengan pengajaran Yesus. Akan tetapi, ada orang-orang yang tidak senang dengan kehadiran Yesus. Mereka bahkan meragukan hikmat dan kuasa dari Yesus. ‘Bukankah Ia ini anak tukang kayu?’ adalah salah satu pertanyaan yang muncul dari mereka untuk merendahkan pribadi Yesus. Hal ini disebabkan karena mereka hidup dan bergaul dengan keluarga Yesus. Mereka tidak percaya bahwa Yesus mempunyai hikmat dan kuasa untuk mengadakan mukjizat-mukjizat. Mereka bahkan bertanya lagi dari mana Yesus memperoleh hikmat dan kuasa-Nya itu. Mereka pun kecewa dan menolak Dia.

Mendengar pertanyaan dan melihat sikap orang-orang sekampungnya, Yesus pun berkata bahwa seorang nabi dihormati dimana-mana, kecuali di tempat asalnya dan di rumahnya. Suatu curahan hati mendalam dari pribadi Yesus yang menyesali sikap dan perbuatan orang-orang sekampungnya. Akibat ketidakpercayaan dan keraguan mereka, Yesus akhirnya pergi dari situ tanpa mengadakan suatu mukjizat apapun.
Sikap orang-orang yang sekampung dengan Yesus seringkali menjadi sikap kita juga. Kita hanya melihat orang dari luarnya saja. Kita jarang mengakui kemampuan yang ada dalam sesama kita. Hal ini muncul karena kita egois dan tidak mau kalah atau tersaingi dengan apa yang menjadi kemampuan dan kelebihan sesama kita. Kita beranggapan bahwa diri kitalah yang hebat bila dibandingkan dengan diri sesama kita. Padahal, kita rapuh dan lemah di hadapan Allah. Untuk mengatasi hal ini, maka kita semua diajak untuk rendah hati dan menerima diri. Kerendahan hati dan menerima diri akan menghantar kita pada kemampuan untuk mengakui dan menyadari keberadaan diri serta kemampuan yang orang lain miliki.

(Fr. Gerry Sebastian Manorek)

“Seorang nabi dihormati dimana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya” (Mat. 13:57).

Marilah berdoa:

Tuhan, buatlah kami tidak salah menilai orang lain. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini