“Menyuarakan Kebenaran”: Renungan, Kamis 29 Agustus 2019

0
2043

Pw. Wafatnya S. Yohanes Pembaptis, Mrt (M).

Yer. 1:17-19; Mzm. 71:1-2,3-4a,5-6ab,15ab,17; Mrk. 6:17-29.

St. Yohanes Pembaptis adalah nabi terakhir yang diutus oleh Allah sebelum kedatangan Sang Mesias. Dialah suara yang berseru-seru di padang gurun: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” (Mat 3:1-2). Sebagai seorang nabi, ia pun senantiasa menubuatkan kehendak Allah bagi umat manusia. Dengan tak jemu-jemu selama hidupnya ia menyuarakan kebenaran. Ia menjadi pelopor para pejuang kebenaran.

St. Yohanes Pembaptis sungguh-sungguh mengamalkan apa yang difirmankan Tuhan kepada  Nabi Yeremia.  Tuhan senantiasa tidak pernah meninggalkan para utusan-Nya. Kepada Nabi Yeremia, Tuhan telah berpesan agar dalam menjalankan tugasnya ia tidak boleh gentar. Tuhan menginginkan agar para utusan-Nya itu memiliki keberanian. Tuhan pula telah mengingatkan bahwa setiap utusan Tuhan itu pasti akan mengalami hambatan. Akan tetapi, hambatan itu janganlah mematahkan semangat juang dan keberanian. Tuhan akan tetap menyertai dan menguatkan para utusan-Nya itu.

Keberanian menyurakan kebenaran itu pula disuarakan bukan hanya kepada rakyat biasa tetapi juga kepada Raja Herodes. Ketika Raja Herodes memperistri Herodias yang adalah  istri saudaranya, St Yohanes Pembaptis menegur tindakan raja itu: “Tidak halal engkau mengambil isteri saudaramu!”(Mrk. 6:18). Sejak saat itu Herodias menaruh dendam kepada Yohanes Pembaptis. Ia ingin membunuhnya tetapi tidak dapat. Hal itu terjadi karena Raja Herodes  sangat segan kepada St. Yohanes Pembaptis.

Raja Herodes tahu bahwa St. Yohanes Pembaptis adalah orang yang benar dan suci. Kesempatan untuk membunuh St. Yohanes Pembaptis pun tiba. Itu terjadi pada hari ulang tahun raja. Pada waktu itu putri Herodias menari dengan baik dan menyukakan hati raja dan para  tamunya. Oleh karena itu, raja berjanji akan memberikan apa saja yang diminta oleh putri Herodias. Setelah bertanya kepada ibunya, ia pun meminta kepala Yohanes Pembaptis dalam sebuah talam. Meskipun ia sangat sedih tetapi karena janjinya, raja pun mengabulkan permintaan putri Harodias tersebut.  St Yohanes Pembaptis dipenggal kepalanya di dalam penjara.

Hari ini Gereja memperingati wafatnya St. Yohanes Pembaptis. Keberanian dalam menyuarakan kebenaran telah diteladankan oleh St. Yohanes Pembaptis. Meskipun konsekuensinya sangat berat, ia tetap dengan setia menjalankan tugas perutusannya itu. Saat ini, hal itu menjadi tugas perutusan kita para pengikut Kristus. Ketika berhadapan dengan ketidakadilan, ketidakjujuran dan hoax, beranikah kita menyuarakan kebenaran?

(Fr Malvin Karundeng)

“Tetapi engkau ini, baiklah engkau bersiap, bangkitlah dan sampaikanlah kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadamu” ( Yer. 1:17).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, berkatilah aku agar aku dapat menjadi pejuang kebenaran. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini