Hari Biasa (H)
Bil. 13:1-2a,25-14:1,26-29,34-35; Mzm. 106:6-7a,13-14,21-22,23; Mat. 15:21-28
Menjadi orang beriman yang taat pada kehendak Allah tidaklah mudah, dibutuhkan perjuangan yang besar. Tidak mengherankan kalau dalam perjalanan hidup ini sering dijumpai hambatan atau tantangan yang membuat manusia perlahan-lahan menjauh dari kehendak Allah itu. Sehingga iman yang ada padanya mulai meredup. Ibarat pelita yang menyala-nyala. Namun ketika minyak mulai habis maka nyala dari pelita itu perlahan-lahan meredup dan akhirnya mati. Tapi, ingatlah iman yang ada pada setiap orang yang percaya tidak akan pernah mati, meskipun besarnya hambatan dan tantangan.
Bacaan Injil hari ini menceritakan tentang anak perempuan dari wanita Kanaan yang kerasukan setan dan sangat menderita. Ia pun datang kepada Yesus dan memohon kepada-Nya, supaya Yesus menyembuhkan anak perempuan itu. Beberapa kali wanita itu berseru kepada Yesus. Bahkan Yesus sempat berkata: “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel”. Tetapi wanita itu tidak mempedulikannya. Bahkan ia sampai menyembah Yesus dan berkata kepada-Nya: “Tuhan, tolonglah aku”.
Percakapan ini pun berujung sampai kepada perkataan Yesus bahwa “tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan dilemparkannya kepada anjing”. Wanita itupun menjawab: “Benar Tuhan, namun anjing itu makan dari remah-remah yang jatuh dari meja tuanya”. Jawaban dari wanita ini pun membuat Yesus terkejut dan berkata: “Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kau kehendaki”. Keyakinan dan perjuangan dari wanita inilah yang membuat Yesus memuji dia. Bahkan tindakan dari wanita itu serentak membuat anaknya sampai sembuh.
Dalam hidup, kita sepatutnya dapat belajar dari wanita ini. Dia yakin dan percaya akan pribadi dan kuasa yang dimiliki oleh Yesus Kristus, bahwa Dia adalah Tuhan yang menyembuhkan dan menyelamatkan. Demikian pula dengan kita walaupun seringkali harus berhadapan dengan berbagai macam hambatan dan tantangan yang menggoncangkan iman kita akan Yesus, Putera Allah yang hidup. Kita pun tetap harus sabar dan tabah menghadapi itu semua. Karena pasti Tuhan tidak akan pernah membiarkan umat yang percaya kepada-Nya menderita. Dengan demikian, Iman yang ada pada kita bisa saja menjadi redup oleh karena kelemahan kita, tapi ingatlah bahwa iman itu tidak akan mati.
(Fr. Chrisanctus Peter Davinci Sadrack)
“Tetapi Perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata: “Tuhan, tolonglah aku” (Mat. 15:25).
Marilah berdoa:
Ya Tuhan, Engkaulah pemilik hidupku, karena itu teguhkanlah selalu imanku akan Engkau, Allah yang menyelamatkan. Amin











