“Semangat Melayani”: Renungan, Selasa 9 Juli 2019

0
4092

Hari biasa (H)

Kej. 32:22-32;  Mzm. 17:1,2-3,6-7, 8b, 15; Mat. 9:32-38

Saudara terkasih, kehidupan manusia tidak pernah terlepas dari relasi dengan yang lain, baik dengan sesama dan Allah. Ada bersama membuat kita hadir dalam setiap dinamika kehidupan manusia. Kehadiran bersama yang lain mengandung konsekuensi bahwa kita hadir dalam kesulitan dan kebahagian orang lain. Sebagai orang Kristen kita diajak untuk hadir bersama mereka yang berbahagia dan berkesulitan. Namun, apakah kita mampu hadir dalam kesulitan orang lain?

Bacaan pertama menceritakan tentang bagaimana dialog yang terjadi antara Yakub dan Allah di pinggir sungai Yabok. Allah hadir bersama dengan Yakub dalam wujud seorang laki-laki. Kehadiran Allah menandakan bahwa Ia tidak pernah meninggalkan orang yang setia. Dalam segala pergumulan hidup, Yakub selalu dan senantiasa percaya pada Allah. Kepercayaan inilah yang membuat Allah tetap memelihara Yakub. Allah hadir dalam setiap dinamika kehidupannya, dalam ketakutannya, Allah hadir dan memberikan kemenangan dalam dirinya: “Namamu bukan lagi Yakub, melainkan Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia dan engkau menang”.

Bacaan Injil menceritakan tentang bagaimana Yesus menyembuhkan seorang bisu yang kerasukan setan. Kemudian, Yesus berkeliling dari kota ke desa untuk mewartakan kabar sukacita bagi semua orang. Yesus melihat orang banyak mulai merasa lelah dan terlantar. Orang banyak itu berjalan seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Melihat peristiwa itu, Yesus berkata kepada para Murid-Nya, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu”.

Saudara yang terkasih, Sabda Tuhan mengetuk hati kita untuk kembali merefleksikan semangat pelayanan yang ada dalam pribadi kita. Panggilan setiap orang Kristen adalah untuk melayani Allah dan sesama. Ladang telah tersedia namun para penuai sedikit. Kita diajak untuk menjadi penuai di kebun anggur Tuhan. Mungkin kita takut tidak didengarkan dan tidak diindahkan? Atau kita takut untuk bersaksi sebagai pelayan Tuhan? Namun, percayalah Tuhan sebagai pemilik kebun anggur selalu menyertai para penuai. Janganlah cemas dan takut, sebab Tuhan selalu hadir dalam kehidupan para pelayannya. Ia tidak pernah meninggalkan mereka yang percaya dan bekerja pada kebun anggur-Nya.

(Fr.Mario Rumsory)

“Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu” (Mat. 9:37b).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, jadikanlah aku sebagai sarana untuk mewartakan karya keselamatan dan cinta kasih-Mu di dunia ini. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini