“Pantang Berbuat Dosa”: Renungan, Sabtu 6 Juli 2019

0
2128

Hari biasa (H)

Kej. 27: 1- 5. 15- 29; Mzm. 135: 1- 2.3- 4.5-6; Mat. 9:14-17

Setiap orang pasti memiliki barang atau kenangan indah, yang kemudian menjadi bermakna baginya. Orang cenderung tak bisa melupakan barang atau kenangan indah tersebut dan selalu berusaha menjaga, mengabadikannya. Jika hilang ia akan mencarinya.

Bacaan pertama pada hari ini juga mengiyakan sikap manusia di atas. Digambarkan bagaimana pentingnya berkat yang adalah doa dari orang tua yang berisikan rahmat berlimpah dari Tuhan kepada anak-Nya. Karena betapa pentingnya berkat, maka Yakub melakukan berbagai macam cara untuk mendapatkan berkat tersebut.

Sikap dari Yakub masih kita warisi sampai sekarang. Kita yang masih berjuang untuk mewujudkan seluruh impian dan cita-cita, pasti akan selalu dengar-dengaran kepada orang tua dan juga mendekatkan diri pada Tuhan. Disadari atau tidak, sikap atau tindakan kita mengarah kepada satu tujuan yakni demi terlaksananya cita-cita, tujuan, dan kehidupan yang bahagia.

Pada bacaan Injil Yesus digambarkan sebagai berkat dari Allah, yang selalu ada dan tinggal bersama orang yang selalu dekat dengan-Nya seperti para murid. Namun Yesus juga memperingatkan bahwa berkat tidak hanya datang begitu saja. Ia harus dicari dan diperjuangkan selama hidup.

Salah satu cara yang ditawarkan untuk mendapatkan berkat adalah berpuasa. Pada umumnya puasa selalu dikaitkan dengan pantang makanan atau hal yang kita sukai. Namun ada hal lebih dari cara puasa kita yaitu bagaimana kita menjaga kualitas iman dan diri kita. Bagaimana caranya? Mari kita belajar dari Santa Maria Goretti.

Orang kudus ini ingin menyambut berkat yakni Yesus sendiri dengan menjauhkan dirinya dari dosa. “Lebih baik mati seribu kali daripada berbuat dosa satu kali”. Ini merupakan kata-kata yang indah tapi juga merupakan tantangan kepada kita semua. Namun percayalah ini adalah cara puasa di mana kualitas iman kita diuji apakah telah layak untuk menerima berkat keselamatan yang adalah diri Yesus sendiri atau tidak.

(Fr. Ever Leftungun)

“Tetapi anggur yang baru disimpan dalam kantong yang baru pula, dan dengan demikian terpelihara kedua- duanya” (Mat: 14:17).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, kuatkanlah imanku agar layak merimah berkat-Mu. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini