“Kamu Rasul Tuhan?”: Renungan, Kamis 11 Juli 2019

0
1735

Pw S. Benediktus, Abas (P)

Kej. 44:18-21,23b-29. 45:1-5; Mzm. 105:16-17,18-19,20-21; Mat. 10:7-15

Beranikah kamu menjadi rasul Tuhan? Mungkin bagi sebagian orang, rasul Tuhan merupakan gelar atau tugas bagi 12 rasul atau kaum hierarki saja. Padahal rasul Tuhan merupakan gelar dan tugas semua orang. Menjadi rasul berarti menjadi utusan, dengan siap-sedia mengikuti Yesus.

Namun dalam realitasnya, ketika kita memberi diri menjadi utusan, ada sikap penerimaan dan sikap penolakan. Penerimaan menciptakan rasa nyaman. Sebaliknya penolakan menyakitkan. Namun di sinilah tantangan dan tugas kita, beranikah?

Seperti halnya Yesus dalam karya dan perutusan-Nya, tidak selalu diterima, malahan lebih diwarnai dengan penolakan. Tetapi penolakan semakin membuat Yesus antusias dalam karya perutusan-Nya.

Matius dalam Injil hari ini menampilkan kisah perutusan para murid yang sesungguhnya memperluas perutusan Yesus, sebagaimana telah dimulainya.

Pertama, perutusan ini bukan hanya ditujukan kepada orang Kristiani tetapi ditujukan kepada domba-domba yang hilang. Merekalah orang-orang yang belum mengenal Kristus maupun sudah mengenal tetapi belum percaya. Tujuan pewartaan yaitu supaya mereka dapat memperoleh keselamatan.

Namun dalam perutusan tersebut, tidak jarang mereka berhadapan dengan penolakan. Demikian kita, terkadang ketika diutus, memiliki pelbagai alasan untuk menolak. Namun itulah gunanya seorang rasul Tuhan, berwarta bukan hanya dalam situasi yang mengenakan tetapi juga dalam situasi bertentangan.

Kedua, dalam perutusan, janganlah mencemaskan apa-apa terlebih yang berbau duniawi. Seperti dikisahkan dalam Injil, janganlah membawa apa-apa. Sebab Tuhan selalu menyertai. Tuhan memampukan dan akan berkarya. Seperti yang dikidungkan pemazmur, ingatlah akan karya Tuhan yang ajaib.

Ketiga, perutusan bukan hanya tugas dari kaum hierarki, biarawan/ti, ataupun mereka yang terlatih, tetapi menjadi tugas kita semua sebagai orang Kristiani. Di lain pihak, perutusan tidak memandang hanya kepada segelintir orang atau kelompok saja, tetapi mencakup semua orang. Keselamatan milik semua orang.

Rasul Tuhan diharapkan mempunyai semangat pemberian diri. Layaknya yang dikatakan dalam Injil, apa yang diberikan kepadamu dengan cuma-cuma, berikanlah demikian. Demikian dengan Santo Benediktus Abas yang kita peringati hari ini, seorang rasul Tuhan, yang memberi diri dan berani meninggalkan kehidupan duniawi. Sehingga ia dapat menjadi pewarta keselamatan dan melayani Tuhan dengan sepenuh hati.

Akhirnya sejauh ini, sudahkah kita menjadi rasul Tuhan? Dan sanggupkah kita tetap menjadi pewarta kendati ditolak?

(Fr. Itho Gerhani Silap)

“Kalian telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma” (Mat. 10:8b).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, beranikanlah aku menjadi rasul Tuhan yang sejati. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini