“Cinta Allah”: Renungan, Jumat 12 Juli 2019

0
2058

Hari biasa (H)

Kej. 46: 1-7, 28-30; Mzm. 37:3-4, 18-19, 27-28, 39-40; Mat. 10: 16-23

Perjuangan tanpa kesetiaan adalah sia-sia. Perjuangan membutuhkan kesetiaan dan kesetiaan menghasilkan kebahagiaan. Kebahagiaan yang utama adalah keselamatan kekal. Inilah bentuk semangat perutusan dan puncak harapan setiap umat beriman. Nah, dengan cara apa hal tersebut dapat terjadi? Atau bagaimana keselamatan kekal itu diperoleh?

Bacaan-bacaan hari ini memuat perjuangan sebagai pengikut Yesus dan tuntutan yang harus dimiliki sebagai utusan serta kepenuhan yang akan diperoleh. Setiap pengikut Yesus adalah utusan bagi kesaksian akan diri-Nya.

Pengikut itu diutus seperti makhluk yang tidak berdaya di tengah-tengah musuh. Mereka akan diserahkan, diadili, dan disesah. Tampak sebagai suatu kesengsaraan sebagai pengikut Yesus, tetapi inilah bentuk partisipasi dalam penderitaan Yesus dan Ia tidak akan membiarkan umatNya berjuang sendiri.

Selain dianjurkan supaya cerdik menghadapi musuh-musuh, juga Roh Allah menyertai mereka dalam berkata-kata agar tidak takut serta kuatir apa yang harus dibuat dan dikatakan. Memang banyak ancaman dan penderitaan yang menanti, tetapi perjuangan untuk menyongsong Kerajaan Allah tidak sia-sia. Begitupun apa yang menjadi pengalaman Yakub dalam masa-masa kelaparan yang ia alami bersama keluarganya. Allah menunjukkan jalan keluar dan Yakub bertemu Yusuf, anaknya, yang datang sebagai penolong.

Banyak hal yang dapat dilakukan untuk meneguhkan semangat perjuangan itu. Tetapi yang utama adalah cinta akan Yesus. Mencintai Yesus adalah kasih yang bukan mulai dari diri sendiri, bukan pula suatu disiplin hidup yang ketat dan kaku, dan bukanlah sekedar emosi atau perasaan kodrati biasa. Mencintai Yesus adalah anugerah Allah. Pribadi-Nya membuat kita menuruti perintah-Nya, dan suatu pengalaman rohani yang membahagiakan batin manusia.

Relasi dengan Yesus mendorong kita untuk menyerahkan seluruh diri atau pribadi kita, dengan segala bakat, sifat, cita-cita serta seluruh kemampuan dan daya hidup kita. Demikian pula seluruh waktu dengan kesetiaan, segala harta milik dan kepunyaan bagi kemuliaan namaNya, serta memberikan prioritas utama bagi kehendak Tuhan dan melaksanakan itu dengan gembira.

Memelihara relasi itu dengan tindakan konkrit dapat dilakukan dengan doa pribadi dan menerima sakramen, melalui Sabda Tuhan (Kitab Suci), bersekutu dalam komunitas serta pelayanan kasih yang setia, tulus, dan total. Sebagai seorang pejuang Kristus, maka hal tersebutlah yang menjadi perlengkapan Allah dan senjata rohani dalam setiap langkah hidup kita. Cinta Allah membungkam setiap musuh, menghancurkan segala penghalang, dan menghantarkan kemuliaan.

 (Fr. Leon Ze)

“Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dialah yang akan berkata-kata di dalam kamu” (Mat. 10:20)

Marilah Berdoa:

Ya Kristus, sertailah aku dalam perjuangan mencapai keselamatan kekal. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini