Pw S. Bonaventura, UskPujG (P)
Kel. 1:8-14,22; Mzm. 124: 1-3,4-6,7-8; Mat. 10:34 – 11:1
“Ketakutan akan Allah merintangi seseorang untuk menyukai hal-hal yang fana yang mengandung benih-benih dosa”. Itulah ungkapan indah yang menjadi pedoman hidup St. Bonaventura, Uskup dan Pujangga Gereja, yang kita peringati hari ini. Ungkapan ini mau mengajak kita sebagai umat beriman untuk setia dalam menjalankan perintah-perintah Allah yang menjadi sumber kekuatan dan hidup sehingga kita tidak akan mudah untuk terseret pada hal-hal duniawi yang membawa kita pada tindakan-tindakan yang akan membuat hubungan akrab kita dengan Allah terputus. Hubungan akrab dengan Allah itu lebih penting dari pada sekedar memuaskan keinginan-keinginan duniawi yang cenderung lebih enak dan nyaman namun pada ahkirnya membawa kebinasaan. Karena untuk itulah Yesus datang yakni agar manusia lebih memikirkan hubungannya dengan Allah dari pada memuaskan keinginan-keinginan duniawi.
Injil hari ini dengan tegas mengajarkan kepada kita bahwa Allah yang harus diutamakan dalam hidup ini. Yesus berkata bahwa kedatangannya bukan untuk membawa damai di atas bumi, melainkan pedang. Ungkapan ini bukan berarti bahwa Yesus datang membawa kebencian dan permusuhan. Yang dimaksud dengan pedang yakni kasih yang membuat seseorang bertindak secara otentik, dimana ia tidak bertopeng atau berpura-pura. Tindakan yang tulus disertai dengan kasih harus ada dalam diri setiap orang, dimana tindakan tersebut terkadang menjadi bencana, ketika berhadapan dengan orang-orang munafik, bertopeng dan lebih mengandalkan diri sendiri dan melupakan Tuhan. Bencana tersebut bisa terjadi antara anak dan orang tua, menantu dan ibu mertua. Hal itu dikarenakan kasih dibangun di atas dasar kepura-puraan.
Ketika berhadapan dengan permasalahan yang membuat kita terpisah karena tindakan yang tulus, janganlah kita takut. Sebaliknya, berharaplah kepada Allah dengan memohon perlindungan dan tuntunan-Nya. Sebab orang-orang yang mengasihi dengan tulus akan mempejuangkan sesuatu yang benar meskipun nyawa taruhannya. Karena Yesus berkata bahwa barangsiapa mempertahankan nyawanya ia akan kehilangan nyawanya dan barangsiapa kehilangan nyawanya demi Aku, ia akan memperolehnya kembali.
Nyawa yang diperoleh kembali menunjuk kepada mereka yang selama hidup memperjuangkan keadilan bahkan harus bersiteru dengan musuh-musuhnya, tidak takut mati. Pada akhirnya mereka dapat berbahagia di surga bersama para kudus dan malaikat untuk memuji dan memuliakan Allah seperti St. Bonaventura yang yang kita peringati hari ini.
(Fr. Gregorius Legi)
“Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya dan barangsiapa kehilangan nyawanya demi Aku, ia akan memperolehnya kembali” (Mat. 10:39)
Marilah Berdoa:
Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami semangat untuk mengasihi dengan tulus. Amin











