“Tidak Setengah-Setengah”: Renungan, Minggu 30 Juni 2019

0
2099

Hari Minggu Biasa XIII (H)

1Raj 19: 16b.19-21; Mzm 16:1-2a.5.7-8.9-10.11; Gal 5:1.13-18; Luk 9:51-62

Yerusalem merupakan pusat keagamaan bangsa Yahudi. Selain itu, di Kota Yerusalemlah, Yesus kemudian mewujudkan semua rencana dan kehendak Bapa untuk menyelamatkan umat-Nya.

Dalam Injil hari ini, kita mendengar bahwa dalam perjalanan ke Yerusalem seorang yang bersama dengan Yesus menyatakan kesediaannya untuk mengikuti Yesus. Namun, mengikuti Yesus bukanlah hal sembarangan dan asal-asalan. Jawaban Yesus dalam Injil hari ini menunjukkan bahwa Yesus menuntut suatu sikap yang serius dan penuh dedikasi, yakni: sikap bebas dan tidak terikat, meninggalkan dosa, dan maju dengan melupakan masa lalu.

Dewasa ini, banyak yang mau menunjukkan hasrat untuk mengikuti Yesus, bahkan memiliki seribu satu hasrat untuk bersama Yesus dan melayani-Nya. Namun tak jarang, hasrat tersebut tidak disertai dengan komitmen yang kuat sehingga terkesan dilakukan setengah-setengah, karena berbagai pertimbangan.

Perihal mengikuti Yesus, kita bisa mencontohi Elisa dalam bacaan pertama. Ketika diminta menjadi utusan Allah oleh Elia, Elisa menyanggupinya seraya mohon izin untuk mencium ayah dan ibunya. Bahkan sebagai ungkapan syukur Elisa kemudian menyembelih sepasang lembu dan memasak dagingnya untuk disantap bersama orang-orangnya.

Elisa setuju dengan rencana Tuhan melalui nabi Elia. Ia mau mencium orang tuanya sebagai tanda hormat, meninggalkan mereka dengan segala ternak untuk melayani Tuhan. Sikap kerelaan, kesiapsediaan seperti ini adalah ciri dan kualitas murid yang sejati. Ini juga merupakan keputusan dan komitmen yang bagus untuk menjadi pelayan.

Tidak jauh berbeda, Paulus mengajak umat di Galatia untuk menyadari panggilan sebagai orang merdeka. Kemerdekaan adalah suatu hal yang mesti disyukuri karena merdeka berarti bebas dari perhambaan. Kendati demikian, Paulus juga menasihati jemaat di Galatia untuk tidak menyalahgunakan kemerdekaan demi kejahatan. Kemerdekaan haruslah menjadi kesempatan bagi kita untuk bertumbuh dalam kasih dan tetap hidup oleh Roh, yang berarti merdeka dari dosa atau perbuatan daging.

Sabda Tuhan hari ini menuntut kita untuk mengambil keputusan yang jelas tentang mengikuti Yesus. Dia memanggil dan mengutus kita. Yesus menghendaki agar kita pun membuat komitmen sebagai orang merdeka untuk mengikuti-Nya dalam perjalanan menuju ke Yerusalem; ikut ambil bagian dalam karya penyelamatan-Nya, dengan membawa Yesus sebagai Kebenaran yang memerdekakan sesama kita.

(Fr. Stevanus Micky Kojongian)

“Setiap orang yang siap membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah” (Luk. 9:62).

Marilah berdoa:

Tuhan, semoga aku bisa mengikuti-Mu dengan sepenuh hati, jiwa, dan ragaku. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini