“Sumber Kehidupan”: Renungan, Rabu 8 Mei 2019

0
2274

Hari Biasa Pekan III Paskah (P)

Kis. 8:1b-8; Mzm. 66:1-3a,4-5,6-7a; Yoh. 6:35-40

Setiap orang yang menjadi pengikut Kristus harus tahu dan mampu mewartakan kabar sukacita. Namun, sebelum mewartakan kita harus pertama-tama merasakan dan mengalami apa itu kabar sukacita. Sehingga pewartaan kabar sukacita itu tidak lari dari apa yang menjadi iman dan kepercayaan kita.

Memang pewarta kabar sukacita pasti mengalami apa yang namanya penderitaan. Dengan adanya pederitaan orang bisa merasakan apa yang menjadi harapan hidup. Penderitaan yang kita alami jangan menjadi beban hidup, karena kita tahu bahwa Yesus Kristus sudah menderita terlebih dahulu. Yesus memberikan diri-Nya dengan wafat di kayu salib demi keselamatan umat manusia.

Di rumah ibadat di Kapernaum Yesus berkata kepada orang banyak: “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku ia tidak akan haus lagi.” Perkataan ini menampilkan kepada kita bahwa jangan pernah takut dalam mewartakan kabar sukacita karena dalam pewartaan yang kita jalani Tuhan pasti selalu dan selalu menyertai kita. Yesus adalah satu-satunya jalan kebenaran yang membawa kita menuju tanah surgawi, sebab Yesus telah turun dari Surga untuk melakukan kehendak Bapa yang telah mengutus-Nya.

Dalam mewartakan kabar sukacita terkadang kita mengalami banyak tantangan namun kita harus mendekatkan diri kepada-Nya, agar dalam mewartakan kita selalu diberikan jalan yang benar. Sehingga apa yang diajarkan Yesus menjadi makanan dan minuman bagi tubuh jasmani kita di dalam menjalani kehidupan keseharian kita. Makanan dan minuman yang Yesus berikan adalah benar-benar makan yang membawa manusia pada jalan kebenaran.

Dalam bacaan Injil dikatakan, “Dan inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman”. Hal ini nmenampilkan kepada kita bahwa Yesus tidak menghendaki manusia itu jatuh binasa, melainkan selamat dari perbudakan dosa.

Maka kita semua yang adalah pewarta kabar sukacita hendaknya menjadi orang yang bertanggungjawab akan iman yang dimiliki. Iman adalah hal yang menjadi jalan menuju perjamuan surgawi. Percayalah bahwa Tuhan telah menyediakan tempat yang indah untuk kelak kita tempati bersama Dia.

(Fr. Sardianus Salambai)

“Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku ia tidak akan haus lagi” (Yoh. 6:35)

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, jadikanlah kami pewarta-Mu yang setia. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini