“Pangan Keselamatan”: Renungan, Jumat 10 Mei 2019

0
1780

Hari Biasa Pekan III Paskah (P)

Kis. 9:1-20; Mzm. 117:1,2; Yoh. 6:52-59

Dalam ilmu ekonomi, ada tiga jenis kebutuhan manusia. Salah satunya adalah kebutuhan primer atau utama, yaitu kebutuhan pangan atau makan minum. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi, manusia tidak akan bertahan hidup.

Yesus hari ini mempromosikan makanan dan minuman. Menarik bahwa, makanan dan minuman itu adalah Tubuh dan Darah-Nya sendiri, yang memberi jaminan keselamatan bagi mereka yang menyantapnya. Sebagaimana tubuh manusia membutuhkan makanan dan minuman untuk bertahan hidup, demikian pula jiwa manusia membutuhkan santapan rohani yakni, Tubuh dan Darah Kristus demi keselamatannya. Makanan duniawi dibutuhkan untuk hidup di dunia ini, sedangkan makanan rohani Tubuh dan Darah Kristus menjadi bekal manusia untuk hidup yang kekal.

Santapan rohani Tubuh dan Darah Kristus ini dapat kita peroleh lewat Ekaristi. Ekaristi menjadi sumber dan puncak hidup kristiani. Gereja dapat hidup karena menimba kekuatan lewat Ekaristi. Lewat Ekaristi, kita membangun hubungan yang intim dengan Kristus Sang Sumber Kehidupan. Dengan menyambut Tubuh-Nya kita sendiri telah tinggal di dalam Dia.

Berkat peristiwa sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus, kita semua dapat diselamatkan. Peristiwa inilah yang kita kenangkan kembali dalam Perayaan Ekaristi. Pengenangan ini bukan sekedar mengingat kembali peristiwa yang telah terjadi dua ribu tahun yang lalu, tetapi menghadirkannya kembali. Demikianlah, Ekaristi merupakan Perayaan Keselamatan.

Perayaan keselamatan ini dirayakan oleh Gereja setiap hari. Maka, dapat dikatakan bahwa keselamatan setiap saat diberikan oleh Sang Roti Hidup. Yesus menghendaki agar kita percaya pada-Nya. Yesus menghendaki agar dalam diri kita, mengalirlah keselamatan berkat daya kekuatan Ekaristi. Yesus mengajak kita semua agar dapat menyantap Tubuh dan Darah-Nya, menyantap Diri-Nya sendiri. Yesus mau kita semua menjadi satu dalam Dia.

Orang yang rindu menyambut Tubuh Tuhan adalah orang yang merindukan keselamatan, dan percaya akan penyelenggaraan ilahi itu. Kehadiran Tuhan dalam diri manusia berkat Ekaristi tidak boleh dicemarkan dengan perbuatan yang bertentangan dengan cinta kasih. Dengan menyambut Tubuh Tuhan, berarti kita siap diutus untuk menjadi saksi Kristus. Sikap dan tindakan orang yang telah menyambut Ekaristi harus mencerminkan Ekaristi itu sendiri, agar Ekaristi sungguh-sungguh berdaya guna dalam kehidupan.

(Fr. Valentino Pandelaki)

“Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku” (Luk. 22:19)

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, sumber kehidupan, berikanlah kami kekuatan agar mampu menjadi saksi-Mu di tengah dunia. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini