“Kesetiaan vs Ketidaksetiaan”: Renungan, Sabtu 11 Mei 2019

0
3894

Hari Biasa Pekan III Paskah (P)

Kis. 9:31-42; Mzm. 116:12-13,14-15,16-17; Yoh. 6:60-69

Di era modern ini, sering muncul masalah-masalah ketidaksetiaan. Karena tidak setia, orang melakukan apa saja sesuka kehendak dan kemauannya, tanpa berpikir kalau hal demikian adalah salah. Ketidaksetiaan juga mengubah tindakan seseorang, yang sebelumnya hidup dalam kebenaran menjadi tidak baik dan tidak benar. Hidup setia sering kali menjadi cobaan, bagi orang-orang masa kini, karena mungkin tidak mau diatur atau ingin menunjukkan kekuasaan. Hidup dalam ketidaksetiaan pasti berujung kehancuran dan kekesalan.

Injil hari ini mengisahkan tentang murid-murid yang mengundurkan diri. Sesudah mendengar perkataan Yesus, banyak dari murid-murid Yesus yang mengundurkan diri dan tidak mengikut Dia, karena bagi mereka perkataan Yesus itu keras. Perkataan Yesus ini juga mau menguji kesetiaan orang banyak yang selalu mengikuti Dia.

Apakah mereka setia mengikuti Dia atau tidak? Apakah mereka semua mau untuk melakukan apa yang Ia katakan? Ataukah hanya sebatas mau mengikuti begitu saja? Yesus menghadapkan mereka pada pilihan yakni ikut atau tidak. Ternyata dari sekian banyak orang yang selalu mengikuti Yesus, hanya kedua belas murid-Nya yang setia untuk mengikuti-Nya. Ketika ditanya “apakah kamu tidak pergi juga?”, Petrus mewakili para murid menunjukkan bahwa mereka tetap setia untuk mengikuti Yesus.

Dalam kehidupan masa kini, kebenaran tidak lagi diprioritaskan. Kebenaran yang seharusnya dijunjung tinggi, akhirnya ditiadakan bahkan dilupakan. Iman yang dulu selalu dipertahankan, kini dinomorduakan demi mengejar pangkat dan jabatan yang menguntungkan.

Secara perlahan-lahan, orang mulai menjauhkan diri dari Yesus dan tidak mau mendengarkan firman-Nya. Kesetiaan kepada-Nya akhirnya hilang dan digantikan dengan ketidaksetiaan. Dengan demikian, melalui Injil hari ini Yesus bertanya kepada kita “apakah kamu tidak mau pergi juga?”. Yesus memberi pilihan kepada kita untuk mengikuti-Nya atau tidak.

Kita sebagai orang beriman diajak untuk belajar dari para murid yang telah menunjukkan jalan bagi kita untuk mengikuti Yesus. Kita semua diajak untuk menjadi orang-orang yang mau menaruh kepercayaan kepada Kristus. Kita harus percaya dan mengetahui firman Tuhan itu sendiri. Yesus adalah yang kudus dari Allah dan apa yang dikatakan-Nya adalah yang hidup yang kekal. Lakukanlah apa yang Ia katakan, maka kita akan memperoleh kehidupan yang kekal.

(Fr. Rhio Sakbal)

“Maka kata Yesus kepada kedua belas murid-Nya, ‘Apakah kamu tidak mau pergi juga?’” (Yoh. 6:67)

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, kuatkanlah iman hamba-Mu ini agar selalu setia untuk mengikuti Engkau. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini