Hari Minggu Prapaskah V (U)
Yes.43:16-21; Mzm.126:1-2ab,2cd-3,4-5,6; Flp.3:8-14; Yoh.8:1-11
Pengalaman masa lalu, entah baik atau buruk pasti selalu terkenang dalam ingatan. Pengalaman yang membawa pada suatu kebahagiaan atau kesedihan, dikasihi atau pun dibenci. Pasti bukan hal yang mudah untuk melupakan setiap pengalaman yang pernah terjadi dalam hidup.
Nubuat Yesaya kembali melukiskan iman bangsa Israel. Iman yang lahir dari pengalaman bersama Allah. Meskipun pernah merasa ditinggalkan Allah, oleh karena menghujat Allah, tetapi mereka tetap mau berbalik dan tunduk pada kasih-Nya. Karena itu ditegaskan, “Janganlah ingat-ingat hal-hal yang terdahulu dan janganlah perhatikan hal-hal dari zaman purbakala! Lihat Aku hendak membawa sesuatu yang baru…” (Yes.43:18-19).
Sesuatu yang baru yang dibawa untuk kembali mengingatkan bahwa Allah sungguh-sungguh mengasihi umat-Nya. Kasih itu nyata pada umat yang mau bertobat dan kembali kepada-Nya. Hal yang serupa digambarkan dalam Injil hari ini. Perempuan yang berzinah mau berbalik kepada Allah. Hal itu terjadi karena ia memiliki pengalaman bersama Yesus meskipun hanya sebentar. Tetapi kehadiran Yesus memberi kekuatan untuk menghadapi kenyataan yang pahit.
Yesus hadir bukan semata-mata untuk menunjukkan kepada orang banyak bahwa Ia memiliki kuasa. Tetapi Yesus hadir mau membuka pintu hati dan kesadaran bahwa setiap manusia berdosa dan membutuhkan pertobatan. Ia membungkuk dan menulis di tanah, di hadapan orang banyak. Satu sikap yang sederhana dan hanya dengan satu kalimat, Yesus mampu menyadarkan orang-orang bahwa mereka semua adalah orang-orang berdosa.
Namun sadar saja tentu tidak cukup, perlu disertai dengan tindakan pertobatan. Hal itulah yang dialami oleh rasul Paulus. Seorang yang dikenal sebagai penganiaya orang-orang Kristen, kembali berbalik kepada Allah karena pengalaman bersama Allah. Ia tersungkur dan tunduk di bawah kasih Allah. Kasih yang membutakan mata manusiawinya, tetapi membuka mata rohani untuk merasakan cinta Allah itu. Ia mengenal Kristus dan kembali melihat dan mengalami kasih Allah. Pertobatan membawanya pada iman yang sungguh-sungguh. Segala sesuatu tidak ada artinya, bahkan dianggap sebagai sampah karena pengenalan akan Kristus.
Masa Prapaskah ini mengajak kita untuk berbalik dan tunduk pada kasih-Nya. Jalan satu-satunya yang bisa kita lalui adalah pertobatan. Pertobatan yang sungguh akan membawa buah kebahagiaan. Tidak ada gunanya menyebut kesalahan orang lain, jika kita sendiri tidak bertobat. Lupakan yang lain, fokuslah kepada satu tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus (Flp. 3:14).
(Fr. Made Pantyasa)
“Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi”(Yoh. 8:11).
Marilah berdoa:
Ya Tuhan, ampunilah kami orang berdosa ini. Amin











