“Terang Kasih Abadi”: Renungan, Sabtu 2 Februari 2019

0
2262

Pesta Yesus Dipersembahkan di Bait Allah (P).

Mal. 3:1-4 atau Ibr. 2:14-18; Mzm. 24:7,8,9,10; Luk. 2:22-40.

Betapa indah hari ini, hari spesial, yaitu hari “persembahan, pengudusan, penyucian diri” pada Tuhan. Kita berasal dari Allah, dipersembahkan kembali kepada Allah, dan juga Allah menyatakan kedaulatan serta kekuasaan-Nya atas kita. Itulah sebabnya hari ini dirayakan sebagai “hari persembahan hidup bakti” bagi semua yang membaktikan hidupnya pada Tuhan. Tentu saja persembahan yang dimaksud adalah “persembahan kasih”.

Ketika Maria bergelimang sukacita dan syukur mempersembahkan Yesus, justru sebuah ramalan berat didengarnya bahwa suatu pedang akan menembus Jiwanya. Pedang adalah simbol kekerasan: menembus, memotong, memisahkan, mematikan. Pedang adalah lawan terhadap kasih, terhadap cinta dan juga terhadap damai. Mengapa harus pedang? Ramalan tersebut sejatinya mengingatkan Maria bahwa ia akan berpartisipasi pada luka derita Yesus Puteranya, juga sebagai bagian dari salibnya.

Tuhan selalu membuat suatu persiapan agar kedatangan-Nya kelak terjadi dengan baik. Ia menyucikan orang agar layak menjadi persembahan bagi Tuhan. Setiap orang yang mengasihi-Nya, memperoleh kasih dan diangkat menjadi anak-Nya. Yesus menjadi manusia dan dikasihi oleh Bapa-Nya. Ia dipersiapkan oleh Allah menjadi pemimpin kita, penyelamat banyak orang. Ia dipersembahkan di Kenisah sebagai tanda bahwa Allah berkenan kepada-Nya. Simeon dan Hana memberi kesaksian bahwa kasih karunia Allah bersama-Nya.

Kata “aku mengasihimu” terasa usang dan tak bermakna ketika manusia menjadikannya sebagai sebuah ungkapan manis demi kepentingan sendiri. Ketika kepentingan menjadi dasar, cinta berhenti pada kata dan tiada relasi. Akibatnnya, manusia tidak mampu menemukan keindahan dan rahmat yang ada dalam relasi kasih. Demikian pula dalam dinamika relasi dengan Allah, ketika unsur kasih tidak ada, maka manusia semakin kesulitan untuk melihat dan mengenal Allah. Dan itulah kegelapan, ketika manusia tidak melihat sama sekali terang yang dipancarkan oleh Allah.

Kasih membuka mata dan memampukan manusia untuk melihat dengan terang benderang keindahan berkat Allah dalam hidupnya. Terang itu juga menaungi Simeon. Kasihnya yang besar dan setia kepada Allah akhirnya memampukan dirinya untuk melihat “cahaya para bangsa” yang juga adalah sang “Terang Kasih Abadi”. Betapa indahnya jika kita pun dapat menyadari martabat kita sebagai anak-anak Allah yang baik. Setiap hari mempersiapkan diri untuk menjadi teladan yang hidup dari iman yang kita percayai, supaya setiap orang yang berjumpa dengan kita pun merasakan kebaikan Tuhan.

(Fr. Thimoty Stevanus Tappi)

Suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri” (Luk. 2:35).

Marilah berdoa:

Tuhan, terimalah persembahan diriku ini. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini